Counter Narative Diperlukan Untuk Atasi Narasi Hoax di Wacana Publik

Kota Bandung, Brilianews.com – Maraknya peredaran informasi yang salah (hoax) di masyarakat melalui perangkat digital, berpotensi mengganggu keharmonisan kehidupan masyarakat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat Ika Mardiah mengatakan,
masyarakat butuh kanal terpercaya untuk informasi yang mereka terima.

Gubernur Jabar (Ridwan Kamil), lanjut Ika Mardiah langsung merespon kebutuhan tersebut, dengan membentuk unit Jabar Sapu bersih hoax atau Saber Hoax.

Tujuannya meningkatkan literasi masyarakat Jabar agar tidak mudah percaya hoax, sehingga tenaga dan pikiran tidak habis terbuang hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak benar.

Hal itu disampaikan Ika Mardiah pada Public expose Hasil Riset Counter Narrative Melawan Hoax, yang diselenggarakan oleh Diskominfo Jawa Barat bekerjasama dengan Fikom Unisba secara hybrid, Rabu (24/8/2022).

Ika mengungkapkan, selama tahun 2022 Tim Jabar Saber Hoax (JSH) menerima 6.145 aduan berita, 4.265 berita diantaranya terklarifikasi sebagai berita hoax.

Baca Juga  Mampu Hilangkan Status Desa Tertinggal, Jabar Terbaik Pertama Dalam Pembangunan Daerah

“Diskominfo Jabar berupaya meyakinkan masyarakat, agar tidak terpengaruh berita hoax, dengan menyampaikan pesan melalui counter narative JSH, ” ujarnya.

Ketua tim Riset Counter Narrative Melawan Hoax, Septiawan Santana menandaskan,
counter narative diperlukan untuk mengatasi dominasi narasi-narasi hoax di wacana publik, melalui digital story telling dengan memakai foto, film, literasi dsb.

Menurutnya, media sosial kini jadi media penyebaran informasi termasuk diantaranya hoax. “Betapa kuatnya hoax di medsos yang dipenuhi dengan berbagai kepentingan dan memicu kebencian, karena dirancang tanpa memedulikan etika,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian kata Septiawan, responden memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap narrative counter berita kesehatan yang disampaikan JSH.

Penelitian dilakukan selama 75 hari, dengan menyebar angket secara random kepada 264 responden.

“Dari 264 responden, 70 persen memiliki ketertarikan pada narasi JSH dalam mengcounter informasi tentang kesehatan, karena mungkin dalam situasi dan kondisi pandemi (Covid-19), ” ungkapnya.

Baca Juga  Peternak Perlu Waspada, Domba Juga Jadi Sasaran Virus PMK

Lebih lanjut dikatakan Septiawan, pengaruh dari narasi tersebut juga cukup besar, mencapai 81%.

“Hal ini berarti kredibilitas pesan JSH memiliki pengaruh kuat terhadap respon emosional masyarakat, dengan mengontrol pesan counter narrative JSH,” tuturnya.

Menanggapi hasil penelitian itu, Karim Suryadi selaku penyanggah menyatakan, hoax sulit diberantas karena ada pasar dan agen nya.

“Hoax sudah ada sejak zaman nabi Daud. Internet hanya faktor yang memungkinkan fenomena hoax begitu masif. Jadi bukan fenomena baru, tapi karena internet dengan berbagai aplikasinya nenyebabkan semuanya jadi masif,” kata Guru Besar Komunikasi Politik
UPI tersebut.

Ia menyebut penelitian ini mengandung nilai holistik yang sangat penting, karena counter narrative dilakukan oleh sebuah institusi yang ada hubungannya dengan pemerintah.

“Saya setuju tentang counter narrative. Nilai holistiknya tinggi, sehingga JSH dipercaya. Masalahnya, apakah berlaku untuk semua kasus ? Keterbatasan penelitian ini, karena konteksnya pandemi,” pungkasnya. (Afr)