Temukan Kasus PMK, Lapor Melalui Aplikasi InaRISK

Bandung, Brilianews.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajak masyarakat dan mahasiswa, ikut berperan dalam upaya pengendalian wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia.

Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat Kesiapsiagaan BNPB, Iis Yulianti mengatakan, mahasiswa dan masyarakat dapat berperan dalam pengendalian PMK dengan melaporkan kejadian PMK melalui aplikasi InaRISK.

Secara gambaran umum, InaRISK (web) adalah portal hasil kajian risiko yang menggambarkan cakupan wilayah ancaman bencana, populasi terdampak, potensi kerugian fisik, ekonomi, dan potensi kerusakan lingkungan.

“InaRISK, terintegrasi dengan berbagai data dan informasi untuk pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana,” kata Iis Yulianti dalam webinar bertajuk “Peran dan Fungsi Mahasiswa serta Masyarakat Umum dalam Mengendalikan PMK di Indonesia” yang diselenggarakan secara daring melalui akun Youtube BNPB Indonesia, Jumat (9/9/2022).

Baca Juga  Pelanggan KA Siliwangi Meningkat Selama Periode Liburan Sekolah

Iis Yulianti menerangkan InaRISK Personal (Apps) adalah sebuah tools/aplikasi berbasis smartphone, untuk memberikan informasi ancaman bencana di suatu lokasi berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang dilengkapi dengan edukasi untuk upaya antisipasinya.

“Jadi nanti di InaRISK ada laporan kejadian di mana masyarakat juga bisa ikut berkontribusi dalam melakukan pemantauan, pencegahan, dan penanganan PMK,” ujarnya.

Menurutnya, laporan masyarakat bisa menjadi masukan rekomendasi pihak-pihak terkait dengan penanganan PMK. Kemudian bagaimana melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat peternak dan pedagang,” katanya.

Baca Juga  Jabar Panen Raya Petani Milenial Komoditas Padi

Iis menambahkan, peran masyarakat dan mahasiswa sangat penting, apalagi bagi mereka yang tinggal di sekitar lokasi kejadian PMK.

Ia menjelaskan, BNPB juga mengerahkan fasilitator PMK yang berasal dari masyarakat sekitar atau warga lokal,bagar secara psikologis dapat memudahkan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada peternak.

“Bisa melakukan mapping di mana sajakah spot-spot peternak yang sebarannya banyak yang diperlukan intervensi yang lebih intens. Terus juga bagaimana masyarakat dan mahasiswa ini, ataupun mahasiswa tentunya perguruan tinggi itu melakukan kajian-kajian yang berkorelasi terhadap penyakit mulut dan kuku,” imbuhnya. (Afr)