Berita  

Road Map Bio Farma: Sepuluh Tahun Kedepan Bio Farma Akan Fokus Pada Sepuluh Vaksin Utama

Kabupaten Bandung, BriliaNews.com – Bio Farma, sebagai induk dari Holding BUMN Farmasi yang mencakup Kimia Farma, Indofarma, dan INUKI, terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri kesehatan global.

Hal tersebut diungkapkan Direktur utama Bio Farma, Shadiq Akasya pada kegiatan media gathering bertema “Transformasi dan Inovasi Bio Farma untuk Kemandirian dan Ketahanan Kesehatan Nasional” di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Kamis-Jumat (22- 23/8/2024).

Turut hadir pada kegiatan tersebut, Wakil Direktur Utama Soleh Ayubi dan Corporate Secretary Bambang Heriyanto.

Shadiq Akasya mengungkapkan, dengan pengalaman dan reputasi sebagai perusahaan peringkat ke-9 global berdasarkan WHO global vaccine market report 2023, Bio Farma telah mendistribusikan vaksin ke lebih dari 160 negara, termasuk vaksin polio yang diproduksi dengan standar tertinggi.

“Saat ini, Bio Farma mengoperasikan 12 pabrik dengan 95 fasilitas produksi, yang mampu memproduksi hingga 3,1 miliar dosis vaksin per tahun, menjadikan BUMN Farmasi ini sebagai pemasok kelima terbesar secara global,” ungkapnya pada media gathering di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Kamis-Jumat (22- 23/8/2024).

Namun demikian, kata Shadiq Akasya, sebagai perusahaan yang memiliki track record luar biasa dalam kancah internasioanl, Bio Farma senantiasa membuka peluang kerjasama dengan instansi yang memiliki visi yang sama dalam bidang kesehatan, yaitu peningkatan ketahanan kesehatan.

Baca Juga  Gempa Dengan Magnitudo 6,7 Guncang Beberapa Wilayah di Jatim

“Partnership Bio Farma dengan berbagai perusahaan ini diharapkan dapat membawa transfer teknologi dan transfer pengetahuan, dalam inovasi penciptaan berbagai macam produk kesehatan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, produk unggulan Bio Farma mencakup Indovac, Nusagard, nOPV2, dan TCV (typhoid conjugate virus).

Dengan teknologi transfer yang kuat, Bio Farma mampu mempercepat produksi vaksin.

Meski demikian, diakuinya tidak mudah bagi sebuah perusahaan farmasi untuk bisa memproduksi vaksin.

“Dibutuhkan setidaknya dua tahun untuk mempersiapkan infrasturukturnya saja, transfer teknologi kita sudah punya. Misalnya saja, pembuatan vaksin HPV (human papillomavirus), kita membutuhkan researcher dengan kemampuan tinggi dan sumber daya yang kuat secara finansial, karena memang lama waktu pembuatan hingga sampai pada uji coba,” ungkapnya.

Menurutnya, negara yang bagus dalam penanganan kesehatan adalah negara yang mengikuti timeline yang sudah ditetapkan oleh WHO.

“Dengan adanya partnership, maka akan tercipta sinergi dan saling melengkapi kebutuhan satu sama lain,” tuturnya.

Pada saat yang sama, Wakil Direktur Utama Soleh Ayubi mengatakan, sebagai tonggak industri farmasi dan kesehatan nasional, Bio Farma telah menyiapkan roadmap jangka panjang.

Baca Juga  Ketepatan Waktu Perjalanan KA Penumpang dan Barang Daop 2 Bandung Terus Meningkat

“Negara kita adalah negara berkembang yang sudah menjurus menjadi negara maju. Penyakit menular sudah bisa diatasi dengan baik, tetapi disisi lain penyakit non-menular mulai meningkat jumlahnya. Nah bio farma juga harus berfokus di situ, tidak hanya mengurus masalah penyakit menular,” tuturnya.

Oleh karena itu, saat ini hingga sepuluh tahun kedepan Bio Farma akan berfokus pada sepuluh vaksin utama yang sedang dikembangkan yaitu, konjugasi typhoid baru (TCV untuk mencegah penyakit typhoid), vaksin rotavirus (untuk mencegah penyakit diare pada bayi), vaksin hepatitis B, vaksin nOPV tipe 1 dan 3, vaksin MR (measles rubella), vaksin new TB (tuberculosis), vaksin hexavalent, serta vaksin platform mRNA.

“Tentu saja dengan permintaan yang cukup tinggi, Bio Farma memberikan fokus yang lebih pada riset dan pengembangan, yang merupakan jantung nya Bio Farma dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia dan global, serta upaya mencapai kemandirian dalam produksi obat dan vaksin,” pungkas Soleh Ayubi.

Pewarta : Adi
Editor      : Afrida