Kota Bandung, BriliaNews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat merilis, pada Januari 2025 Provinsi Jawa Barat secara month-to-month (m-to-m) mengalami deflasi sebesar 0,68 persen. Padahal, dalam dalam 2 tahun terahir, di Januari mengalami inflasi, yakni 0,47 persen di tahun 2023, dan 0,15 persen di tahun 2024
Namun secara year-on-year (y-on-y), pada Januari 2025 Jabar mengalami inflasi sebesar 0,79 persen.
Hal itu disampaikan Kepala BPS Prov. Jabar, Darwis Sitorus pada Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Prov. Jabar di Kota Bandung, Senin (3/2/2025).
Darwis Sitorus menjelaskan kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga, menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 1,34 persen.
“Berdasarkan komoditas, andil deflasi terbesar berasal dari komoditas tarif listrik (1,36 persen), diikuti bawang merah (0,02 persen), ketimun (0,01 persen), tomat (0,01 persen), dan sawi hijau (0,01 persen),” ujarnya.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar, adalah cabe rawit (0,19 persen), cabai merah (0,14 persen), minyak goreng (0,04 persen), bensin (0,03 persen), dan emas perhiasan (0,03 persen).
Bila dilihat secara y-on-y, komoditas emas perhiasan memberikan andil inflasi tertinggi di Jawa Barat, yaitu sebesar 0,41 persen, diikuti minyak goreng 0,19 persen, beras 0,15 persen, kopi bubuk 0,14 persen, dan cabai rawit 0,13 persen.
Darwis mengungkapkan, dari 10 kota/kabupaten yang dipantau oleh BPS Jabar, secara m-to-m seluruhnya mengalami deflasi.
“Deflasi terdalam terjadi di Kab. Bandung dan Kab. Subang, dimana keduanya mengalami deflasi sebesar 0,99 persen,” tuturnya.
Sebaliknya, deflasi terkecil terjadi di Kota Bekasi yakni sebesar 0,26 persen.
Bila secara y-on-y, mayoritas kota/kabupaten mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi berada di Kota Sukabumi sebesar 1,5 persen.
“Sementara itu, Kab. Subang menjadi satu-satunya yang mengalami deflasi sebesar 0,35 persen,” tutupnya.
Pewarta : Adi
Editor : Afrida






