Puluhan Warga Kampung Cimarel Datangi PLN UIP JBT, Tuntut Ganti Rugi Lahan Terdampak Proyek Strategis Nasional PLTA Upper Cisokan

Kota Bandung, BriliaNews.com – Sebanyak 31 Kepala Keluarga (KK) warga Kampung Cimarel, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat provinsi Jawa Barat, mendatangi Kantor PT PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah di Jl. Karawitan No. 32, Kota Bandung, Rabu (12/2/2025).

Mereka menuntut kepastian atas pembayaran ganti rugi, terkait lahan mereka yang digunakan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan Pumped Storage (UCPS).

Namun dua orang perwakilan dari PLN UIP JBT hanya bersedia menerima kuasa hukum warga terdampak, Roedy Wiranatakusumah.

Usai pertemuan, Roedy mengaku kecewa karena pihak PLN menolak menemui dan mendengarkan penjelasan dari warga terdampak.

Pihak PLN UIP JBT
juga menyatakan belum mendapatkan kepastian atas pembayaran ganti rugi lahan.

Baca Juga  Libur Nataru 2022-2023, Jalan Tol Cisumdawu Akan Difungsikan Hingga Cimalaka

“Barusan saya diterima oleh dua orang perwakilan PLN, saya meminta agar warga yang sudah jauh-jauh datang, dengan perjalanan berjam-jam dari subuh untuk bisa diterima dan didengarkan penjelasannya oleh PLN. Tapi mereka menolak, cukup dengan kuasa hukumnya saja,” tuturnya kepada wartawan.

“Yang saya bawa hari ini 31 KK. Sebagian sudah mendapatkan peta bidang, sebagian lagi (lahannya) belum diukur sama sekali. Mereka bilang akan melakukan invertarisir. Akan itu kapan? Warga telah menunggu kejelasan ganti rugi sejak 11 tahun yang lalu,” imbuhnya.

Di saat yang sama, salah seorang warga terdampak, Imanudin berharap, agar secepat mungkin mendapat kepastian untuk pembayaran ganti rugi atas lahan mereka.

Pasalnya, banyak lahan yang masih produktif, namun menjadi tidak dapat digunakan, akibat terdampak pembangunan proyek PLTA tersebut.

Baca Juga  Peringati Hari Batik Nasional, Petugas Kereta Api Kenakan Seragam Batik Khusus Saat Bertugas

“Sampai saat ini masih banyak lahan kami, warga masyarakat terdampak Upper Cisokan yang masih produktif, tapi kami tidak bisa menggarap karena ada tanah urugan,” kata dia.

Ia mengatakan, lahan yang dimilikinya biasa digunakan untuk menggarap pertanian. Namun karena sering terdampak urugan PLTA Upper Cisokan tidak dapat digunakan.

“Kami berharap ada kejelasan terkait itu, makanya ke PLN,” tuturnya.

Sebagai informasi, PLTA Upper Cisokan Pumped Storage merupakan Proyek Strategis Nasional PLTA terbesar di ASEAN, yang sebagian dananya didanai oleh Bank Dunia (World Bank). PLTA ini memiliki kapasitas 1.040 MW, mengalahkan PLTA Cirata dan Jatigede, untuk memasok listrik ke Jawa-Bali.

Pewarta : Adi
Editor : Afrida