Kota Bandung, BriliaNews.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pembangunan wilayah yang berakar pada kondisi wilayah. Ia mencontohkan desain kantor pemerintah di Jabar yang seragam, padahal kondisi geografis dan cuaca di setiap daerah berbeda.
“Akibatnya, bangunan menjadi tidak nyaman dan tidak terkoneksi dengan lingkungan. Ini memicu kegelisahan,” tutur Dedi Mulyadi dalam Indonesia Green Connect 2025 di Aula Timur Kampus ITB, Kota Bandung, Kamis (7/8/2025).
Karenanya, Ia mengajak ITB untuk mengembangkan riset kewilayahan yang berbasis pada sifat dan karakter lingkungan setempat.
“ITB harus memimpin pengembangan arsitektur dan tata ruang yang sesuai dengan ciri khas wilayah. Bangunan di Bandung misalnya, seharusnya tidak bergantung pada AC karena cuacanya sejuk. Tapi karena desainnya keliru, ruangan jadi panas dan boros energi,” katanya.
Selain itu, Dedi juga mengajak ITB untuk melakukan optimalisasi pemanfaatan energi matahari dan pengelolaan sampah sebagai sumber energi terbarukan.
“Sampah selama ini dianggap musibah, padahal itu energi. Teknologi yang dibutuhkan tidak harus mahal. Saya tantang ITB bikin sistem pengelolaan energi dari sampah di kelurahan sekitar kampus. Biayanya akan kami tanggung,” ucapnya.
Menurutnya, konsep pembangunan berkelanjutan juga harus mencakup perbaikan lingkungan sekitar pusat-pusat pendidikan, seperti di Jatinangor. Ia menyoroti kondisi lalu lintas dan fasilitas pejalan kaki yang membahayakan mahasiswa.
“Ilmu jangan hanya berhenti di disertasi. Jadikan Jatinangor kawasan terpelajar yang bersih, tertib, dan aman,” tuturnya.
(Ida)






