Kota Bandung, BriliaNews.com – Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tatacipta Dirgantara menyambut baik peresmian halte ITB Ganesha A koridor 5 Metro Jabar Trans (MJT) trayek Dipatiukur–Jatinangor, yang menghubungkan Kampus ITB Ganesha A di Kota Bandung dengan Kampus ITB Jatinangor di Kabupaten Sumedang.
Menurut Prof Tatacipta keberadaan rute bus tersebut bukan hanya sekedar transportasi, melainkan bagian dari mobilitas kampus ITB, baik mobilitas dosen, mahasiswa maupun tenaga kependidikan dapat bergerak lintas kampus.
“Seperti yang sudah saya sampaikan, (rute) Dipatiukur–Jatinangor itu sudah ada dari tahun 90-an dan alhamdulillah 35 tahun kemudian, ITB Ganesha tersambung dengan ITB Jatinangor,” ujar Tatacipta, pada Sosialisasi MJT Koridor 5 di Gedung International Relation Office (IRO) ITB, Jalan Ganesa, Kota Bandung, Senin (26/1/2026).
Rektor menyebut adanya rute ITB ganesha kota Bandung – ITB Jatinangor Sumedang ini, merupakan bentuk nyata bagaimana pemerintah bersama lembaga dan mitra terkait berhasil menyediakan layanan publik yang inklusif, terjangkau, ramah bagi masyarakat, terutama bagi civitas akademika dan keluarga besar Institut Teknologi Bandung.
“Ini sangat bermanfaat, menghubungkan dua kampus dan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang penting,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dengan terhubungnya kedua kampus ini, keberadaan rute bus tersebut bukan hanya sekedar transportasi, melainkan bagian dari mobilitas kampus ITB, sehingga mobilitas dosen, mahasiswa maupun tenaga kependidikan dapat bergerak lintas kampus.
Selain itu, tersedianya tranportasi masal ini juga berkaitan dengan tujuan pembangunan yang berkelanjutan, dengan mengurangi emisi karbon.
“Mudah-mudahan ke depan bisa dijadikan lahan penelitian-penelitian longitudinal yang dilakukan civitas akademika ITB. Mulai dari desain busnya, perubahan dari mesin diesel ke listrik, menambah IOT, sehingga bisa mengetahui posisi bus, dll,” ujarnya.
“Saya berterima kasih sekali kepada Pemerintah Daerah, Dinas Perhubungan, serta kepada Metro Jabar Trans yang telah memfasilitasi, sehingga ITB kampus Ganesha bisa terhubung dengan ITB kampus Jatinangor,” lanjutnya.
Di saat yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Jabar Dhani Gumelar mengatakan, koridor 5 memiliki potensi penumpang cukup tinggi. Berdasarkan data, dari 1,5 juta penumpang MJT per tahun, 30 persen diantaranya ada di koridor 5 dari ITB ke Jatinangor, karena menghubungkan dua kawasan pendidikan tinggi di kawasan Cekungan Bandung.
Tarif MJT telatif murah dan terjangkau, karena pemerintah memberikan tarif khusus Rp2.000 bagi pelajar, lansia, dan penyandang disabilitas, sedangkan untuk umum Rp 4.900 flat jauh dekat.
“Kalau misalnya mahasiswa ITB yang punya kartu mahasiswa, nah itu bisa digunakan,” tutur Dhani.
Ia menekankan, pembayaran memakai sistem cashless untuk mempermudah penumpang.
“Bisa menggunakan e money dan juga QRIS. Nanti ke depannya akan ada juga kartu berlangganan khusus untuk mahasiswa,” ungkapnya.
Pada koridor 5 ini armada Metro Jabar Trans yang dioperasikan sebanyak 25 unit bus aktif dengan 3 bus cadangan, serta menambah perjalanan dari 84 menjadi 100 perjalanan, sehingga waktu headway atau waktu tunggu antar bis hanya sekitar 5 -10 menit.
Waktu operasionalnya pun setiap hari, dari jam 4.30 subuh hingga 20.10 malam dengan
rute ITB Ganesha A – Dispora Kota Bandung – Mahawarman – Lapangan Gasibu A – PUSDAI A – Lapangan Supratman A – Taman Pramuka – Hotel Grand Tebu – Bandung Creative Hub A – Hotel Horison A – PT Inti A 3 4 6 – Simpang Bypas Soetta A – SPBU Moh Toha – Cileunyi A – IPDN A – ITB Jatinangor.
Dhani menekankan akan terus melakukan evaluasi atas layanan Metro Jabar Trans. Dishub Jabar juga menerapkan standar minimal yang cukup tinggi, diantaranya AC tidak boleh mati, supir tidak boleh merokok, dan tidak boleh berhenti di sembarang tempat.
“Kami memiliki hotline 0821 2121 1800 (chat whatsapp) dimana penumpang bisa memberikan pengaduan, kritik, dan saran atas layanan Metro Jabar Trans,” pungkasnya.
Pewarta : Adi
Editor. : Afrida






