Mei 2026, Inflasi Jabar Terkendali di Angka 0,24 persen

Kota Bandung, BriliaNews.com – Momentum Hari Raya Idul Adha dan gejolak geopolitik global, mengerek laju inflasi Jawa Barat ke angka 0,24 persen pada Mei 2026.

Namun, di tengah bayang-bayang kenaikan harga pangan dan energi tersebut, kabar baik justru datang dari sektor perdagangan luar negeri dan kesejahteraan petani.

Hal tersebut diungkapkan, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, Selasa (2/6/2026).

Margaretha Ari memaparkan, pada Mei 2026 Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month-to-month).

Angka ini berbalik arah setelah pada bulan sebelumnya mencatatkan deflasi sebesar 0,07 persen.

Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi tahun kalender (year-to-date) menyentuh angka 1,42 persen.

Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 3,07 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi y-on-y Mei 2025 yang berada di level 2,78 persen.

Baca Juga  Lewat Reses I DPRD Jabar, Legislator ini Berikan Solusi Untuk Akses SIPD

Secara spasial, dari kota/kabupaten yang dipantau di Jawa Barat, laju inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Cirebon sebesar 0,39 persen, disusul Kota Bandung dan Kota Depok masing-masing sebesar 0,30 persen. Sedangkan inflasi terendah berada di Kota Tasikmalaya yakni sebesar 0,04 persen.

“Faktor utama pendorong inflasi bulan Mei ini dipengaruhi oleh siklus musiman menjelang Hari Raya Idul Adha, di mana beberapa komoditas pangan esensial mengalami kenaikan harga, khususnya cabai merah, bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi,” jelas Ari.

Selain faktor domestik, tantangan eksternal berupa konflik geopolitik global di Timur Tengah, turut memicu gejolak harga energi dalam negeri (seperti LPG non-subsidi, avtur, dan BBM non-subsidi).

Baca Juga  Dinas Lingkungan Hidup Angkut 95 Meter Kubik Sampah Malam Tahun Baru

Di sisi lain, laju inflasi dapat ditahan berkat kebijakan strategis pemerintah yang menanggung PPN Jasa Angkutan Udara Niaga sebesar 100 persen selama 60 hari, serta tren penurunan harga emas dunia yang memberikan andil deflasi secara month-to-month.

Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar bulan ini mencakup cabai merah, bawang merah, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, dan bensin.

Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah telur ayam ras, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang putih, dan tomat.

(Adi)