Dari Sampah Jadi Gizi, Inovasi Dosen ITB Sulap Sampah Organik Jadi Telur dan Daging

Kota Bandung, BriliaNews.com – Ditengah persoalan sampah yang tak kunjung usai di Kota Bandung, sebuah inovasi sederhana namun revolusioner lahir dari sebuah lingkungan permukiman di RW 02 Kelurahan Pasirlayung.

Tumpukan sisa sayuran, kulit buah, hingga limbah dapur yang biasanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kini justru berubah menjadi sumber pangan bergizi berupa telur, ayam kampung, ikan, hingga bebek.

Inovasi tersebut diberi nama Bersemi Farm: Dari Sampah Menjadi Gizi, sebuah konsep peternakan terpadu berbasis pengolahan sampah organik yang digagas dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa.

Berbekal keresahan sebagai warga Bandung terhadap krisis sampah yang terus berulang, Linus menghadirkan Apartemen Ayam Maggot, sebuah sistem peternakan vertikal yang mampu mengolah sampah organik hanya dalam waktu dua hari sekaligus menghasilkan sumber protein bagi masyarakat.

“Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah. Sebagai dosen, saya berpikir bagaimana ilmu yang kami miliki bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Dari situlah lahir Bersemi Farm, dari sampah menjadi gizi,” kata Linus di Pasirlayung, Selasa (23/6/2026).

Linus merupakan dosen Program Studi Fisika ITB yang menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di ITB pada 1989, melanjutkan Magister (S2) di kampus yang sama pada 1993, kemudian meraih gelar Doktor (S3) dari Universität Karlsruhe, Jerman, pada 1999.

Baca Juga  Ridwan Kamil: Aturan Mudik di Jabar Ikuti Pemerintah Pusat

Selama lebih dari dua dekade menjadi akademisi, ia aktif mengembangkan penelitian di bidang fisika kebumian, mitigasi bencana, kecerdasan buatan, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus pengabdian masyarakat dan riset Linus, semakin mengarah pada pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.

Pada 2026, ia memimpin program Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Ayam Petelur untuk Mendukung Penurunan Stunting di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kota Bandung.

Pada tahun yang sama, ia juga mengembangkan inovasi “Dari Sampah Menjadi Gizi: Pengolahan Sampah Organik Perkotaan Berbasis Maggot BSF dan Ayam Petelur, untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis” yang menjadi salah satu landasan ilmiah lahirnya Bersemi Farm.

Komitmen terhadap pengelolaan sampah sebenarnya telah dimulai jauh sebelum Apartemen Ayam Maggot berdiri.

Pada 2025, ia mengembangkan teknologi pengelolaan sampah organik dan sampah plastik, menuju konsep Zero Waste di MTs Muhajirin melalui penerapan komposter dan hidroponik.

Sementara pada 2024, Linus memimpin program Penerapan IPTEKSAINS dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos dan Pupuk Organik Cair (POC) di RW 02 Kelurahan Pasirlayung.

Baca Juga  Ridwan Kamil Berbagi Pengalaman Jadi Peserta Lari di Pocari Sweat Run Indonesia 2021

Dengan bekal pengalaman akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat tersebut, Bersemi Farm tidak sekadar menjadi proyek lingkungan, tetapi merupakan implementasi nyata hasil riset perguruan tinggi yang diterapkan langsung di tengah masyarakat untuk menjawab persoalan sampah, memperkuat ketahanan pangan, mendukung program penurunan stunting, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular di tingkat permukiman.

Konsep yang dibangunnya berbeda dengan pengolahan sampah organik pada umumnya. Jika komposter membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk mengurai limbah, larva lalat tentara hitam atau maggot mampu menyelesaikan proses tersebut hanya dalam waktu sekitar 48 jam.

Lebih menarik lagi, maggot hasil penguraian itu tidak berhenti sebagai limbah, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai pakan ayam kampung, ikan, hingga entok. Bahkan sisa makanan matang dari rumah tangga langsung menjadi pakan ternak, sementara kulit buah dan sayuran menjadi makanan utama maggot.

Sistem tersebut menciptakan siklus yang nyaris tanpa limbah.

“Kami ingin memperpanjang siklus sampah organik. Jangan berhenti menjadi kompos saja, tetapi bisa menghasilkan protein untuk masyarakat,” ujarnya.

(Ida)