Kota Bandung, BriliaNews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mengungkapkan, Jabar secara month-to-month mengalami inflasi pada bulan Juni, naik 0,04 persen dari 0,24 persen pada bulan Mei menjadi level 0,28 persen, akibat penyesuaian harga energi dan dampak awal musim kemarau.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan pada Juni 2026, Provinsi Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara month-to-month (m-to-m).
Adapun tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di level 1,70 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year) melesat di angka 3,08 persen.
“Secara umum, inflasi bulan Juni 2026 sebesar 0,28 persen dipengaruhi kuat oleh naiknya harga bahan bakar minyak non-subsidi untuk jenis Pertamax dan Pertamax Green 95. Kenaikan harga ini memberikan andil inflasi yang cukup besar pada kelompok komoditas bensin, mencapai 0,21 persen,” ujar Ari dalam rilis Berita Resmi Statistik, Rabu (1/7/2026). .
Selain faktor energi, Ari menjelaskan adanya tantangan musiman dari sektor pangan seiring datangnya musim kemarau yang mulai terjadi di Jawa Barat.
“Memasuki musim kemarau yang dimulai pada pertengahan tahun 2026 ini, kami mencatat adanya dorongan kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan dan hortikultura akibat menipisnya pasokan di pasar,” ungkapnya.
Komoditas seperti bawang merah mengalami kenaikan dengan andil 0,03 persen, bawang putih memberikan andil 0,02 persen, serta beras dan tomat masing-masing menyumbang andil 0,01 persen menjadi pemicu inflasi.
Lebih lanjut, Ari juga menyoroti pergerakan komoditas global dan nilai tukar mata uang asing yang berdampak terhadap inflasi sepanjang Juni 2026.
“Gejolak harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global berimbas secara domestik, di mana harga minyak goreng dalam kemasan mengalami kenaikan di Jawa Barat. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih belum stabil menyebabkan harga komoditas pangan berbasis impor seperti bawang putih turut naik,” ujar Ari.
“Namun ada juga komoditas yang mengalami penurunan harga dan menyumbang andil deflasi yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, ikan mas dan cabai merah,” rinci Ari.
Dilihat berdasarkan wilayah, Kota Depok mencatatkan inflasi bulanan (m-to-m) tertinggi di Jawa Barat sebesar 0,42 persen.
“Sementara itu, untuk inflasi tahun ke tahun (y-on-y), tertinggi di Kabupaten Majalengka sebesar 3,40 persen, disusul oleh Kota Bandung sebesar 3,37 persen,” pungkas Ari.
(Adi)






