OJK Ungkap Sektor Jasa Keuangan Jawa Barat Tetap Tangguh di Pertengahan Tahun 2026

Kota Bandung, BriliaNews.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat menegaskan, bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga pertengahan tahun 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika ekonomi global maupun nasional.

Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman menjelaskan, stabilitas sektor keuangan Jawa Barat terjaga dengan baik, ditopang oleh pertumbuhan intermediasi perbankan yang positif serta profil risiko yang terkendali.

Kondisi tersebut tercermin dari berbagai indikator utama perbankan yang terus mencatatkan pertumbuhan secara tahunan (year on year/yoy).

Hingga Juni 2026, total aset perbankan tumbuh 5,67 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,23 persen, dan penyaluran kredit meningkat 8,58 persen.

“Kinerja ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan jasa keuangan di Jawa Barat,” kata Darwisman, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga  Ternak Mati Akibat PMK, Peternak di Tasikmalaya Dapat Kompensasi

Sementara dari sisi kualitas kredit, tingkat risiko tetap berada dalam batas yang terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,42 persen. Sedangkan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 145,33 persen yang mencerminkan penyaluran kredit lebih besar dibandingkan dana masyarakat yang berhasil dihimpun.

Pada Juni 2026, penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek di Jawa Barat mencapai Rp1.120 Triliun, tumbuh 8,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Meskipun pertumbuhan ini masih berada di bawah capaian nasional yang mencapai 12,48 persen, Jawa Barat tetap menjadi provinsi dengan pangsa kredit terbesar kedua secara nasional setelah DKI Jakarta, dengan kontribusi sebesar 12,10 persen,” jelasnya.

Darwisman mengungkapkan, berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar masih kepada rumah tangga dengan nilai mencapai Rp460,13 triliun (tumbuh 8,50 persen yoy).

Baca Juga  Gubenur Ridwan Kamil Sampaikan Pemulihan Sungai Citarum di Konferensi Dunia COP26

Sementara itu, perlambatan penyaluran kredit dipengaruhi penurunan pada sektor konstruksi sebesar Rp739 miliar seiring peningkatan risiko kedit pada sektor tersebut.

Di sisi lain, sejumlah sektor menunjukkan pertumbuhan yang kuat disertai perbaikan kualitas kredit.

Sektor industri pengolahan mencatat rasio NPL sebesar 2,49 persen dengan perbaikan 1,76 persen, sektor real estate mencatat NPL 0,69 persen dengan perbaikan 0,33 persen, sedangkan sektor pengangkutan dan pergudangan mencatat NPL 0,77 persen dengan tren risiko yang semakin baik.

Ia menambahkan OJK Jawa Barat terus mendorong perbankan untuk memperluas pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan baik dan tingkat risiko yang terukur.

“Langkah ini diharapkan mampu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” tutup Darwisman.

(Adi)