HUT ke 81 KAI, Pengamat Perkeretaapian: Transformasi Layanan Harus Berbanding Lurus Dengan Peningkatan Keselamatan

BriliaNews.com – Memasuki usia yang ke 81 tahun, PT Kereta Api Indonesia
telah menjadi bagian penting perubahan mobilitas masyarakat Indonesia.

Tonggak sejarah perkeretaapian Indonesia terjadi pada 28 September 1945, ketika para pekerja kereta api mengambil alih pengelolaan perkeretaapian dari Jepang setelah Indonesia merdeka.

Peristiwa tersebut menjadi awal lahirnya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.

Pengamat Perkeretaapian Indonesia
Joni Martinus mengatakan pada masa awal perjalanan Republik Indonesia, kereta api memiliki peranan vital sebagai sarana penghubung antar kota, antar wilayah, dan moda angkutan yang mengantarkan hasil bumi dari satu daerah ke daerah lainnya.

Jalur rel yang membentang di berbagai daerah menjadi penggerak mobilitas masyarakat, sekaligus menopang kegiatan ekonomi di tengah proses pembangunan bangsa.

Seiring perubahan zaman, kebutuhan masyarakat terhadap transportasi terus meningkat. Kereta api yang sebelumnya menjadi penghubung perjalanan antar wilayah, kini tumbuh menjadi layanan dengan berbagai karakter, mulai dari perjalanan jarak jauh, perjalanan lokal, mobilitas harian masyarakat perkotaan hingga angkutan logistik yang menjadi rantai pasok berbagai komoditas.

Ia menilai diusianya yang ke 81 tahun ini transformasi layanan yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam beberapa tahun terakhir, berhasil meningkatkan standar pelayanan transportasi publik nasional. Perbaikan layanan yang konsisten menjadikan KAI sebagai salah satu rujukan, bagi berbagai sektor layanan transportasi publik di Indonesia

Keberhasilan KAI tidak terlepas dari komitmen seluruh elemen perusahaan dalam menjaga kualitas layanan secara berkelanjutan, mulai dari aspek keselamatan, keamanan , ketepatan waktu, hingga kenyamanan pelanggan.

KAI secara konsisten juga terus mengembangkan dan meningkatkan integrasi transportasi, fasilitas stasiun, peremajaan sarana kereta dan lokomotif, peningkatan inovasi digitalisasi pada sistem tiket, serta menjadi ruh bagi pengembangan konsep perencanaan perkotaan yang memadukan tata ruang kota dengan moda transportasi umum (TOD) serta pengelolaan kawasan pendukung perkeretaapian.

“Saya mengapresiasi capaian kinerja angkutan penumpang yang berdasarkan data KAI, bahwa KAI Group telah melayani 351.602.397 pelanggan sepanjang Januari–Agustus 2026, meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 328.311.868 pelanggan,” ujarnya.

Baca Juga  Bey Machmudin Pastikan Stok Beras di Jabar Aman Hingga Lebaran

Menurutnya, pertumbuhan penggunaan transportasi berbasis rel menunjukkan semakin pentingnya peran kereta api dalam mendukung aktivitas masyarakat di berbagai wilayah Indonesia

Pada layanan angkutan barang, KAI mengangkut 32.498.043 ton barang sepanjang Semester I 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas non batu bara. Bahkan dalam dalam satu dekade terakhir, angkutan barang melalui kereta api meningkat 74,2 persen, dari 40.060.714 ton pada 2017 menjadi 69.791.691 ton pada 2025.

Joni ményebut capaian kinerja ini menunjukkan peran KAI dalam mendukung rantai pasok nasional, khususnya untuk kebutuhan energi, industri, dan logistik.

Dengan kapasitas besar dan jadwal perjalanan yang terencana, layanan barang berbasis rel menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran distribusi komoditas strategis.

Lebih lanjut Joni mengatakan bahwa keberhasilan layanan transportasi tidak hanya ditentukan teknologi dan infrastruktur, tetapi juga sikap profesional petugas serta perilaku pengguna yang mendukung sistem layanan.

Ia juga menyoroti sejumlah fasilitas yang dinilai menjadi keunggulan layanan transportasi kereta api di Indonesia, diantaranya adalah keberadaan musala, water station, sistem tiketing, face recognition , area bermain anak, sajian menu makanan di atas kereta yang variatif, toilet kereta api yang ramah lingkungan telah mengakomodir kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, fasilitas tersebut menunjukkan bahwa pengelola Kereta api tidak hanya fokus pada aspek operasional, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sosial dan budaya pengguna jasa.

Kehadiran kereta-kereta baru yang membawa suasana futuristik seperti : Sleeper train, gerbong panoramik, suite Class Compartemen, The nusantara explorer, economi new generation dan berbagai kereta generasi terbaru, juga menjadi hal yang patut di acungi jempol.

Joni menilai berbagai inovasi tersebut turut memperkuat posisi KAI sebagai salah satu wajah layanan transportasi publik Indonesia yang semakin kompetitif.

Baca Juga  Bandara Husein Bangkit, Wings Air Layani Penerbangan Harian Bandung - Yogyakarta

“Keberhasilan KAI menunjukkan bahwa peningkatan layanan yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan kepercayaan publik, sekaligus menciptakan standar baru dalam pelayanan publik,” tandasnya.

Jangan Lupakan Faktor Keselamatan

Diusia yang ke 81 tahun ini masih banyak pekerjaan rumah yang harus di benahi oleh KAI, terutama pada sektor Keselamatan.

Joni mengingatkan bahwa KAI harus benar-benar fokus dan serius dalam menangani faktor keselamatan, sebab pelayanan yang sudah baik tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan keselamatan.

Diketahui ada sekitar 1.810 perlintasan sebidang yang saat ini tidak di jaga, wajib di tangani dengan maksimal oleh KAI tentunya bekerja sama dengan instansi terkait lainnya. Sebab, hal tersebut berpotensi terjadinya kecelakaan antara kendaraan jalan raya dengan kereta api yang dapat menimbulkan korban jiwa serta kerugian material dan penurunan citra perusahaan

Berdasarkan data KAI dari Januari hingga Juni 2026 ada sekitar 134 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang
Artinya rata-rata setiap bulan ada 22 kali kecelakaan di perlintasan sebidang dan ini merupakan angka cukup memprihatinkan yang patut menjadi fokus penanganan

“Masih segar dalam ingatan peristiwa tragis kecelakaan kereta api di stasiun Bekasi timur pada 27 April 2026 dimana KA Argo bromo anggrek menabrak dari belakang Commuter line (KRL) yang menelan korban 15 orang meninggal dan 84 orang luka-luka.
Peristiwa tersebut merupakan catatan kelam KAI yang tidak boleh terulang lagi, maka fokus pada peningkatan keselamatan dan kordinasi antar lembaga terkait adalah hal mutlak tanpa kompromi “ tegas Joni

“Pada akhirnya, kualitas layanan yang dijaga secara berkelanjutan dan berbanding lurus dengan peningkatan keselamatan dapat menjadikan KAI bukan hanya sebagai penyedia jasa, tetapi juga sumber inspirasi bagi sektor lain, karena kemajuan dari suatu bangsa dapat terlihat dari layanan transportasinya” pungkas Joni.

(Ida)