Pemprov Jabar Ambil Alih Hak Pengelolaan Tanah Milik PTPN dan Perhutani

Kab. Bandung, BriliaNews.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) berencana mengambil alih hak pengelolaan tanah-tanah milik PTPN maupun Perhutani yang ada di Jawa Barat, khususnya yang berada di kawasan Gunung Wayang di Kabupaten Bandung.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pengambilalihan hak pengelolaan dilakukan, untuk selanjutnya ditanami dengan tanaman-tanaman khas kawasan tersebut.

“Saya targetkan seribu hektar lahan biar selesai. Petani yang nanamnya saya gaji Rp2,5 juta perbulan. Satu orang 2 hektar. Diperlukan 500 orang,” ucap Dedi Mulyadi, di Situ Cisanti Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026).

Ia menegaskan bahwa langkah ini dilakukan sebagai salah satu strategi untuk menyelesaikan kemiskinan yang dialami banyak warga di daerah perkebunan sayur. Mulai dari Cianjur Selatan, Garut Selatan kemudian Bandung Selatan.

Baca Juga  9.176 Guru Keagamaan di Kota Bandung Akan Dapat Bantuan Pemerintah

Menurutnya, kemiskinan terjadi di wilayah-wilayah tersebut karena upah buruh sangat murah, yaitu Rp30.000, Rp25.000 dan terkadang ada yang masih Rp20.000.

“Dan strategi ini dibiarkan miskin untuk apa? agar mereka patuh. Saya termasuk pemimpin yang tidak mau kepatuhan disebabkan oleh kemiskinan, saya ingin kepatuhan disebabkan oleh kesejahteraan,” tegasnya.

Dedi Mulyadi menyatakan penanaman akan dimulai pada bulan Desember tahun ini, dengan jumlah petani penanam pohon yang disiapkan sebanyak 4.000 orang. Petani penanam pohon akan digaji tiap bulan Rp2,5 juta sehingga Pemprov Jabar menyediakan sekitar Rp10 miliar per bulan atau Rp120 miliar per tahun.

Dana tersebut, menurut dia tidak ada artinya dibandingkan banjir luapan Citarum yang disebabkan oleh kerusakan lahan sekitar sungai tersebut.

Baca Juga  Pj. Gubernur Jabar Dorong Pemda Kabupaten dan Kota di Bandung Raya Perkuat Tata Kelola Sampah

Citarum yang memiliki sedimentasi harus dikeruk dengan biaya pengerukan dalam setiap tahun lebih dari Rp1 triliun. Ditambah lagi biaya yang harus dikeluarkan karena banjir dan perbaikan lingkungan serta infrastruktur.

Selain itu kata Dedi Mulyadi, dengan adanya Citarum akan menghasilkan pendapatan negara sangat besar. Seperti pembangkit di Cirata, Saguling dan Jatiluhur, dipastikan menghasilkan hingga triliunan rupiah.

“Setelah itu lahir kawasan industri di Purwakarta, Kerawang, Bekasi, perputaran uangnya puluhan triliun dalam setiap bulan. Kalau Citarum mengering, Cisanti mengering, gunung wayangnya mengering, maka industri disitu akan mati,” jelasnya.

Dedi Mulyadi menuturkan, pengeluaran Pemprov Jabar tidak melulu hanya untuk proyek, tetapi juga perlu untuk kesejahteraan rakyat, seperti menggaji petani untuk menanam pohon dan merawat hutan.

(Ida)