Bandung, BriliaNews.com – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengapresiasi perusahaan, yang telah menyisihkan sebagian dari keuntungannya untuk program Corporate Social Responsibility (CSR) melalui Forum CSR Jawa Barat.
Tahun 2022 ini dana CSR yang terkumpul dilaporkan mencapai Rp155,08 milyar, jauh lebih tinggi dibanding tiga tahun sebelumnya.
Pada awal dibentuknya forum CSR Jawa Barat tahun 2019, dana yang terhimpun hanya Rp57,75 milyar, kemudian tahun 2020 turun menjadi 55,36 milyar dan tahun 2021 kembali meningkat hingga mencapai Rp92,75 milyar.
“Saya sangat bangga dan berterimakasih, karena statistiknya meningkat jadi Rp150 milyar. Walaupun menurut saya, ada triliuanan dana CSR yang beredar di Jawa Barat. Cuma belum terkumpul di forum (CSR) ini, ” kata Ridwan Kamil pada acara Jabar Punya Informasi (JAPRI) di Bandung, Kamis (22/12/2022).
JAPRI kali ini mengangkat tema “Sinergi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perusahaan, untuk Percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Jawa Barat.

Menurut Ridwan Kamil, meningkat pesatnya dana CSR atau Tanggung Jawa Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan melalui forum CSR Jawa Barat, karena kita kompak dan penyaluran dana sesuai dengan impactful yang sudah ditentukan.
“Sebelum ada forum ini, dana CSR perusahaan habis tapi tidak kedengaran,” ujarnya.
Ia mengakui dana CSR sangat kecil untuk mendanai program-program SDGs, tapi poinnya kebersamaan sebagai nilai kebangsaan dan keadilan sosial yang dikoordinasikan secara profesional oleh Pemprov Jabar.
“Kita menganut sistem ekonomi Pancasila, ada kompetisi ada kooperasi. Jadi tidak semata-mata mencari cuan sebagai goals utama. Kalau sudah yakin hidup dan berusaha di tanah Indonesia, kita ini ekonomi pancasila. Di dalam kekayaan dan keberhasilan itu ada tanggung jawab sila ke lima. Itu valuenya,” tandas Ridwan Kamil.
Untuk program CSR tahun 2023, Gubernur yang disapa kang Emil ini menuturkan ada lima problem yang perlu “dikeroyok” bersama-sama.
“Yang pertama fokus pada sumber daya manusia. Salah satu masalah terbesarnya adalah stunting. Kemudian masalah sosial, green ekonomi, dan tranformasi kapasitas penyelenggara negara,” tuturnya.
Terkait green ekonomi, Ridwan Kamil mengungkapkan Jawa Barat sudah kehilangan 700 ha tanah mulai dari Muaragembong sampai ujung Subang. Tanah tersebut hilang sudah jadi air laut, akibat global warning.
“Untuk mengantisipasi air laut yang naik ke daratan, kami butuh jutaan pohon mangrove untuk ditanam di sepanjang pantai tersebut. Dari CSR Jabar sudah menanam 60 juta pohon,” ucapnya.
Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat H. Sumasna melaporkan, dana CSR paling besar disalurkan untuk infrastruktur dan sanitasi lingkungan, kemudian pendidikan, penanganan Covid-19 yang khusus 2021 dan 2022 yang kita akumulatifkan, lalu lingkungan, kesehatan, sarana dan prasarana keagamaan dan peningkatan daya beli.
“Ini beririsan dengan urusan-urusan kita dalam pelayanan publik, yang disupport mitra CSR,” tuturnya.
Sumasna menjelaskan dalam program menurunkan stunting, mitra CSR juga dilibatkan termasuk penanganan kemiskinan, program Petani Milenial, dan peningkatan UMKM.
“Dalam urusan Water Sanitation and Hygiene (WASH), pengelolaan sampah, penyediaan air bersih dan bantuan kebencanaan di Cianjur, juga turut didukung oleh mitra CSR ,” ungkapnya. (Afr/ Adi)






