Komisi IV DPRD Jabar Tinjau Pembangunan Alun-Alun di Cimahi dan Bandung Barat

Kota Bandung, BriliaNews.com – Komisi IV DPRD provinsi Jawa Barat, meninjau pembangunan alun-alun di kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat, yang baru memasuki tahap pengerukan tanah.

Pembangunan dua alun-alun yang ditargetkan selesai Juli tahun ini, merupakan realisasi dari janji politik pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum, saat kampanye Pilkada Gubernur/ Wakil Gubernur Jawa Barat tahun 2019 lalu.

“Kelihatannya Gubernur (Ridwan Kamil) lagi ngebut menyelesaikan janji-janji kampanye Pilkada disisa masa jabatannya, termasuk pembangunan alun-alun di kabupaten/ kota,” kata Sekretaris Komisi IV DPRD provinsi Jawa Barat Dr. Buky Wibawa Karya Guna, di Bandung baru-baru ini.

Baca Juga  Yosa Octora : Warga Desa Cipedes Kuningan Minta Perbaikan Tembok Penahan Tanah Sungai Cipedes

Politisi partai Gerindra ini mengungkapkan, biaya pembangunan alun-alun itu cukup besar. Untuk alun-alun kota Cimahi saja dianggarkan Rp 14,3 milyar sedangkan alun-alun Kabupaten Bandung Barat Rp10,4 milyar.

Mengutip pernyataan Ridwan Kamil, kata Buky, pembangunan alun-alun memberikan manfaat kepada masyarakat untuk meningkatkan index kebahagiaan. “Namun, saya tidak tau efektivitasnya,” ujar politisi partai Gerindra tersebut.

Menurut Buky, pihaknya pernah menyampaikan pandangan agar anggaran pembangunan/ revitalisasi alun-alun, dialokasikan untuk hal-hal yang lebih penting. Namun, karena ini janji politik dan sudah diakomodir dalam RPJMD, harus direalisasikan.

Baca Juga  BPS : Inflasi Jabar Bulan November 0,16 m-to-m dan 2,19 y-to-date

“Kalau saya, ruang terbuka seperti itu, saya sambut positif saja bila memang memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Meski demikian, ia mempertanyakan pemeliharaan dari alun-alun tersebut. Ia berharap fasilitas publik yang dibangun dengan biaya tidak murah itu, dapat dipelihara dengan baik.

Buky juga menyambut baik pembangunan gedung creative center di kabupaten/ kota di Jabar, tapi harus mempertimbangkan aspek sosialnya.

“Harusnya, orang-orang tehnik (arsitek) berkomunikasi dengan social engineering, sehingga ide-ide yang bagus itu bisa diwujudkan dengan sempurna. Kan harus jadi tempat berproses, kalau tidak akan jadi sarang kelelawar,” pungkasnya. (Ida)