Bio Farma Berbagi Ilmu Kepada Peneliti Peserta Workshop Vaccinology for Clinical and Public Health Practice

Kota Bandung, BriliaNews.com – Bio Farma terbuka untuk kolaborasi dengan para ahli lainnya di berbagai bidang.

Hal itu dikatakan Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir ketika menerima 80 peneliti internasional, akademisi dan profesional klinis atau kesehatan masyarakat dibidang vaksinologi, peserta “Policy Conference and Workshop Vaccinology for Clinical and Public Health Practice”, baru-baru ini.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh PHARCI UNPAD, bersama dengan London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM), Saw Swee Hock School of Public Health (SSHSPH) – National University of Singapore (NUS) dan Health Intervention and Technology Assessment Program (HITAP), diikuti peneliti dari empat negara yakni Laos, Thailand, Filipina termasuk dari Indonesia.

“Bio Farma senantiasa terbuka untuk berkolaborasi dengan para ahli lainnya di berbagai bidang. Bagi kami kolaborasi adalah kunci dari keberhasilan,” ucap Honesti dalam keterangan resminya, Kamis (25/5/2023).

Menurut Honesti, saat pandemi Covid-19, Bio Farma berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk percepatan penanggulangan pandemi.

“Kami menyadari untuk menghadapi pandemi ini, kita harus bekerjasama untuk memperkuat ketahanan kesehatan bangsa,” ujarnya.

Baca Juga  Akselerasi Pertumbuhan Perusahaan dengan Aset Kecil dan Menengah Melalui Go Public

Direktur Operasi Bio Farma, Rahman Roestan menyampaikan apresiasi atas kepercayaan kepada Bio Farma, untuk sharing knowledge dan terlibat dalam acara yang dapat mengarah pada kolaborasi jangka panjang dibidang vaksinologi.

“Workshop yang dilaksankan ini menjadi kesempatan yang penting untuk berkerjasama dengan industri lain, dalam menghadapi kekurangan vaksin, kekurangan obat-obatan, dan alat kesehatan,“ ungkap Rahman.

Sementara itu, Director of Innovation and Corporation UNPAD, Prof. Dr. Tomy Perdana menyebut kolaborasi ini untuk mempersiapkan praktik klinis, dengan mengundang lebih dari 70 peserta dalam Policy Conference dan Workshop yang dihadiri oleh para peneliti lainnya.

“Acara ini dilakukan untuk pengembangan penelitian klinis dan terkait kebijakan dibidang vaksinologi. Penelitian, fokus pada epidemiologi dan topik penting lainnya, bagaimana penyakit dapat dicegah oleh vaksin dan memperoleh teknologi kesehatan lainnya, “ ungkap Tomy.

Pada Workshop tersebut Direktur Operasi Bio Farma, Rahman Roestan
menjadi salah satu narasumber, yang mengangkat tema “Vaccine Journey: from The Lab To The People”.

Baca Juga  Bapemperda DPRD Jabar ke Kemendagri Konsultasikan Penyesuaian Ranperda Pajak Daerah

Dalam paparannya, Rahman Roestan menjelaskan tentang pelajaran yang didapatkan serta inovasi yang dikembangkan oleh Biofarma Group pada pandemi Covid-19.

Ia juga menguraikan perjalanan proses pengembangan vaksin untuk ketahanan kesehatan global, mulai dari penelitian, pengembangan, manufakturing dan quality control yang harus dijaga ketat agar mendapatkan kualitas vaksin yang baik.

“Research and Development antara Universitas, Industri, dan Lembaga Penelitian harus selalu berkolaborasi, bekerjasama untuk mendapatkan vaksin secepatnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini Kementerian Kesehatan memiliki program TKDN untuk mendorong swadaya vaksin, maka dari itu negara perlu merencanakan praktik permanen yang melibatkan industri vaksin.

“Teknologi dan proses digitalisasi merupakan lingkup industri baru dalam menjadi produsen vaksin. Namun, dari lingkup regional dan nasional hal itu merupakan harmonisasi dari regulasi. Inovasi dan kolaborasi harus terus dilakukan oleh industri kesehatan untuk ketahanan kesehatan global,” paparnya.

Pewarta : Adi
Editor : Afrida