Bio Farma Tandatangani MOU dan Jalin Kemitraan dengan Becton Dickinson and Company Perangi TB di Indonesia

Bandung, BriliaNews.com – Bio Farma dan perusahaan teknologi medis global terkemuka Becton Dickinson and Company (BD), telah menandatangani nota kesepahaman (MOU) dalam upaya bersama memerangi tuberkulosis (TB), dengan menyediakan akses terhadap portofolio diagnostik TBC inovatif BD dan menjalin kemitraan untuk mengoptimalkan rantai pasokan solusi TBC di Indonesia.

“Kolaborasi ini merupakan bukti dedikasi kami dalam membantu Indonesia meningkatkan diagnosis TBC, khususnya TBC yang resistan terhadap beberapa obat dan TBC yang resistan terhadap satu obat,” ujar Nikos Pavlidis, Presiden BD Diagnostic Solutions, dikutip dari rilis Bio Farma, Selasa (21/11/2023).

Menurut Nikos Pavlidis, dengan lebih dari satu juta kasus TBC setiap tahunnya, Indonesia mempunyai beban penyakit TBC tertinggi kedua di dunia.

Sebelum pandemi global COVID-19 terjadi, TBC merupakan penyebab utama kematian akibat satu agen infeksius di negara ini.

TBC yang resistan terhadap salah satu atau kedua obat lini pertama yang biasanya digunakan dalam pengobatan, rifampisin (RIF) dan isoniazid (INH), masih menjadi rintangan penting dalam upaya memberantas penyakit ini, karena pasien TBC yang resistan terhadap obat memerlukan pengobatan yang berbeda.

Baca Juga  Penjualan Bersih Holding BUMN Farmasi Tahun 2021 Naik 203,16%

Ia menyatakan jika tidak diidentifikasi secara dini dan diobati dengan tepat pengobatan mungkin tidak berhasil, sehingga akan menimbulkan risiko perkembangan penyakit, penularan, dan timbulnya resistensi terhadap obat lain.

Namun demikian, kata dia, dengan adanya deteksi dan pengobatan yang tepat waktu, TBC dapat disembuhkan.

“Saya terdorong oleh upaya kolektif kami yang sejalan dengan tujuan nasional Indonesia untuk memberantas TBC pada tahun 2030.”

Nikos Pavlidis mengatakan, uji BD MAX™ MDR-TB memungkinkan laboratorium dan dokter, untuk mendeteksi bakteri penyebab tuberkulosis dan menentukan apakah bakteri tersebut resisten terhadap beberapa obat atau resisten terhadap satu obat secara bersamaan. “Sehingga meningkatkan informasi yang tersedia untuk mengarahkan pengobatan optimal bagi pasien mereka,” ucapnya.

Baca Juga  Sektor Pariwisata di Bandung Raya, Rugi Puluhan Miliar Rupiah Akibat Penutupan Obyek Wisata

Menurut Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya, sistem BD MAX™ merupakan platform diagnostik molekuler, yang sudah digunakan di ribuan laboratorium di seluruh dunia.

Sistem ini sepenuhnya otomatis, mengurangi peluang terjadinya kesalahan manusia dan meningkatkan kecepatan dalam menghasilkan hasil, serta dapat memproses 24 sampel secara bersamaan, dan hingga beberapa ratus sampel per periode 24 jam.

“Setiap unit mampu melakukan pengujian terhadap infeksi saluran pernapasan, patogen enterik, infeksi yang didapat di rumah sakit, dan infeksi menular seksual, ” ujarnya.

Shadiq Akasya menuturkan, uji BD MAX™ MDR-TB disertakan dalam pembaruan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, mengenai diagnosis cepat untuk deteksi tuberkulosis.

“Kolaborasi ini membantu kami memperluas portofolio produk alat diagnostik, dan kami berharap dapat membantu Indonesia mengurangi kasus TBC secara signifikan dan menghilangkan TBC pada akhir dekade ini, ” tuturnya.

Pewarta : Adi
Editor       : Afrida