BPS : September 2024, Ekonomi Jabar Deflasi 0,21 Persen

Kota Bandung, BriliaNews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Jawa Barat merilis, pada September 2024 ekonomi Jabar mengalami deflasi. Secara month to month (m-to-m), ekonomi Jabar deflasi 0,21 persen, naik dari bulan sebelumnya yang tercatat 0,07 persen.

Namun secara year on year (y-on-y), BPS mencatat inflasi pada September 2024 sebesar 2,09 persen, turun dari periode yang sama sebelumnya yang berada di angka 2,39 persen.

Hal ini terjadi, karena penurunan harga BBM, panen atau perdagangan dan berkat dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang berhasil mengamankan harga-harga pemicu inflasi.

“Ada penurunan harga bensin yang dilakukan Pertamina. Itu memberikan efek multiplier terhadap perdagangan, bahkan transportasi. Dan itu tercermin di angka inflasi di Jabar yang mengalami penurunan,” kata Kepala BPS provinsi Jabar Darwis Sitorus di Bandung, Senin (1/10/2024).

Baca Juga  Rahmat Hidayat Djati Ingatkan Dampak Positif dan Negatif Kawasan Industri

Ia menjelaskan 7 kabupaten kota yang menjadi pantauan BPS, selama September 2024 seluruhnya mengalami deflasi, sehingga menyumbang terjadinya deflasi Jawa Barat sebesar 0,21 persen.

“Deflasi m-to-m tertinggi, terjadi di kabupaten Subang dan kota Bekasi sebesar 0,38 persen, sedangkan deflasi terendah di kota Depok 0,01 persen,” ujarnya.

Sementara komoditi yang memberikan andil terhadap deflasi Jabar, yakni cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras dan bensin.

Baca Juga  Setwan Jabar Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak Gempa Cianjur

Lebih lanjut, Darwis mengatakan, memasuki musim hujan juga akan berpengaruh pada harga produk hortikultura.

“Bila hujannya merata, akan memberikan dampak terhadap komoditi yang sama. Namun demikian, kita lihat selama ini kondisi hujannya bergiliran, tidak merata, ini tentu akan mempengaruhi harga,” ujar Darwis.

Meski demikian kata Darwis, naik turunnya harga ini selain daripada iklim, juga dipengaruhi beberapa faktor, seperti transportasi, akses, dan juga fenomena-fenomena lainnya.

“Misalnya tadi, harga bensin, yang bisa memberikan efek multiplier terhadap penurunan atau kenaikan harga komoditi-komoditi yang lain,” tutup Darwis.

Pewarta : Adi
Editor     : Afrida