Jabar Targetkan Produksi Gabah Kering Giling 2024 Capai 11 Juta Ton

Kab. Indramayu, BriliaNews.com – Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin optimistis, Jabar bisa mencapai target produksi gabah kering giling 11 juta ton sampai akhir 2024 sesuai dengan program Pemerintah Pusat.

Berbagai upaya telah dilakukan dengan intensifikasi pertanian, seperti pompanisasi dan pengaturan jadwal masa tanam. Upaya lain yang tak kalah penting yakni sinkronisasi data dengan Badan Pusat Statistik.

“Saya minta Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura mengecek ulang dan rekonsiliasi datanya dengan BPS,” ujar Bey Machmudin saat meninjau panen raya di Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Senin (18/11/2024).

Baca Juga  Atlet Paralimpik Kota Bandung Raih 31 Medali pada ASEAN Paragames 2022

Keyakinan Bey bertambah setelah melihat hasil panen raya di Kecamatan Tukdana, yang satu hektare sawahnya bisa menghasilkan 8 ton gabah kering giling.

Apalagi lingkungan produksinya sudah terintegerasi, yang mana di sana tersedia alat penggilngan padi tak jauh dari sawah, sehingga memperingkas proses produksi.

“Sebelah (sawah) ada penggilingan padi, sangat baik dicontoh gapoktan lain,” kata Bey.

Bey menyadari masih banyak kendala pertanian yang masih harus dijawab. Seperti saat ini petani masih mengeluh mahalnya harga pupuk dan stok yang kadang langka. Namun, Pemda Provinsi Jabar berupaya agar nilai tukar petani terus membaik.

Baca Juga  KAI Daop 2 Bandung Ingatkan Pengendara Untuk Tidak Menerobos Pintu Perlintasan : "Nyawa Taruhannya"

“Dikeluhkan petani pupuk masih sulit didapat. Kami inginkan nilai tukar petani semakin baik,” kata Bey yang menerima aspirasi dari para petani Tukdana.

Bey mengungkapkan, salah satu penyebab pupuk langka di antaranya juga disebabkan saat ini sedang transisi pemerintahan, yang mana banyak anomenklatur kementerian berubah begitu pun pemegang jabatannya. Otomatis perubahan ini berdampak pada birokrasi.

Menurutnya, saat ini kuota pupuk nasional sebanyak 9,55 juta ton tapi baru disalurkan sekitar 5 juta ton. Selain perubahan birokrasi, persoalan lain adalah irigasi pertanian.

(Ida)