Kota Bandung, BriliaNews.com – Sebanyak 250 anak difabel mental menikmati perjalanan kereta api relasi Bandung – Cicalengka – Bandung – Padalarang secara gratis, bersama KAI Commuter line wilayah 2 Bandung.
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi PT KAI Commuter dengan
Yayasan 7 Kita+, dalam rangkaian peringatan hari Disabilitas Nasional.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Joni Martinus berharap kolaborasi ini akan memberikan kesan yang khusus dan mengedukasi anak-anak difabel tentang transportasi kereta api.
“Kami ingin melayani anak-anak berkebutuhan khusus ini, seperti kami melayani masyarakat biasa. Karena, angkutan kereta api tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga ramah terhadap para penyandang disabilitas, ” kata Joni Martinus di stasiun Bandung, Kamis (12/12/2024).
Joni Martinus menyatakan komitmen KAI dalam menyediakan layanan ramah disabilitas, diwujudkan dengan menyediakan berbagai fasilitas
seperti toilet khusus, jalur tunanetra dan kursi roda. Hampir disemua stasiun sudah ada fasilitas untuk disabilitas.

“Petugas kami di stasiun juga siap membantu penumpang disabilitas, seperti mendorong kursi roda atau menuntun penumpang disabilitas,” ujarnya.
Pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 pun, dikatakannya KAI Commuter juga akan memberikan layanan secara maksimal kepada seluruh pengguna commuter line termasuk warga difabel.
“Pada masa angkutan Nataru mulai 19 Desember 2024 sampai 5 Januari 2025, kami akan maksimalkan sarana yang ada yakni 58 perjalanan di wilayah 2 Bandung dengan kapasitas angkut rata-rata perhari 43 ribu penumpang,” ucap Joni Martinus.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan 7 Kita+, Hendra Rades Puluma menuturkan, perjalanan dengan commuterline di momen liburan ini untuk mengenalkan anak-anak difabel khususnya mental mengenal salah satu model transportasi yang ada.
Kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru bagi anak-anak, sekaligus edukasi bagi orangtua dan petugas KAI.
“Dalam perjalanan ini, kami juga menyediakan sesi konseling bagi orang tua bersama praktisi dan ahli,” kata Hendra.
Hendra menyoroti pentingnya meningkatkan pemahaman terkait disabilitas mental di ruang publik. Sebab, ia menilai selama ini masih kurang mendapat perhatian.
“Kita sering bicara ramah disabilitas, tetapi hanya fokus pada disabilitas fisik. Dengan kegiatan ini, kami ingin memastikan anak-anak disabilitas mental, juga merasa diterima dan dipahami, khususnya oleh para petugas frontliner KAI,” katanya.
Hendra pun mengapresiasi sambutan hangat para petugas KAI yang mendampingi anak-anak, mulai dari kedatangan hingga masuk ke dalam gerbong.
“Pelayanan seperti ini adalah bentuk ruang publik yang inklusif, yang benar-benar mendukung keluarga besar penyandang disabilitas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan psikolog dr H. Zara, yang turut mendampingi perjalanan anak-anak difabel tersebut.
Ia menyatakan dengan adanya kerjasama dengan KAI Commuter, anak-anak difabel mental ini jadi terbiasa naik kereta api, tidak lagi tantrum atau merasa asing berada dalam kerumunan.
“Mereka jadi merasa sama dengan yang lainnya dan tidak membuat anak difabel mental jadi tontonan masyarakat umum, ” tandasnya.
(Ida)






