KPK Sosialisasikan Nilai Antikorupsi Lewat Pendekatan Budaya dan Agama di Jawa Barat

Bandung, BriliaNews.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melihat Jawa Barat tak hanya kaya akan nilai-nilai budaya dan agama, tetapi juga menyimpan potensi besar dalam upaya pemberantasan korupsi.

Oleh karena itu, KPK melalui Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat (Ditpermas), menyelenggarakan kegiatan Safari Keagamaan Antikorupsi dan Ngobrol Antikorupsi di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi pekan ini.

Mengangkat tema “Peran Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, dan Organisasi Masyarakat dalam Mewujudkan Kabupaten Bandung Barat Bebas dari Korupsi”, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mempererat sinergi antara KPK dan para tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta organisasi kemasyarakatan.

Baca Juga  Ridwan Kamil Ajak Jamaah Majelis Taklim Perbanyak Kebaikan

“Tujuannya, membumikan budaya antikorupsi melalui pendekatan Trisula Pemberantasan Korupsi: pendidikan, pencegahan, dan penindakan,” ungkap Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, dalam kegiatan yang digelar secara hybrid di MAN 1 Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/5/2025).

“Tugas ini—pendidikan, pencegahan, penindakan—tidak cukup hanya dilakukan oleh KPK. Kita butuh kolaborasi antarsemua lini. Dari tokoh masyarakat, adat, hingga tokoh agama. Karena perubahan perilaku itu lahir dari keteladanan,” imbuhnya.

Membangun Ekosistem Berintegritas

Sejak berdiri pada 2004 hingga April 2025, KPK telah menangani 1.694 kasus korupsi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 162 kasus terjadi di Provinsi Jawa Barat, menjadikannya wilayah dengan angka kasus korupsi tertinggi secara nasional. Posisi berikutnya ditempati oleh Jawa Timur (154 kasus) dan Sumatera Utara (93 kasus).

Baca Juga  RSUD Bandung Kiwari Kebakaran, Sejumlah Pasien Dirujuk ke Rumah Sakit Terdekat

Data ini menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi tidak bisa hanya mengandalkan penindakan hukum. Dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menciptakan ekosistem berintegritas, melalui jalur pendidikan dan pencegahan.

“Sehingga forum ini menjadi ruang diskusi terbuka tentang bagaimana pengaruh sosial dan nilai-nilai budaya lokal, bisa menjadi benteng kuat dalam mencegah korupsi,” jelas Wawan.

Melalui Safari Keagamaan Antikorupsi, KPK juga mengajak para tokoh dan pemuka agama, untuk menyuarakan nilai-nilai antikorupsi melalui mimbar, kegiatan pendidikan keagamaan, serta dakwah. 

(Adi)