Ditutup Sejak Empat Bulan Lalu, Pengelola Bandung Zoo Kekurangan Biaya Untuk Pakan 711 Satwa

Kota Bandung, BriliaNews.com – Pengelola Bandung Zoo, mulai kehabisan dana untuk membiayai pakan 711 satwa yang menghuni kebun binatang Bandung tersebut.

Kondisi ini menjadi titik terendah sepanjang sejarah Bandung Zoo, pasca dilakukan penutupan sejak empat bulan lalu pada 6 Agustus 2025.

Penutupan Kebun Bandung Zoo dilakukan, karena terjadi konflik dualisme pengelolaan. Imbasnya, bentrokan tak terhindarkan saat area wisata edukasi satwa tersebut ditutup untuk pengamanan aset daerah.

Kini, Bandung Zoo masih ditutup setelah konflik itu pecah.

Biaya operasional, mulai dari pakan harian hingga gaji karyawan telah menghabiskan seluruh tabungan dan dana cadangan.

Namun, kas saat ini berada di angka nol. Manajemen hanya dihadapkan pada dua pilihan pahit, meminta bantuan publik atau membiarkan satwa-satwa kesayangan mereka kelaparan.

Baca Juga  Berkunjung ke SD di Bekasi, Bey Machmudin Ajak Siswa Berlomba dalam Prestasi

“Mulai Jumat, 12 Desember ini, karyawan harus lebih kreatif dan berjuang lebih keras, demi kelangsungan hidup seluruh satwa,” ujar Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, yang akrab disapa Aan, dengan nada yang berat.

Meski berada di tengah keterbatasan ekstrem, dedikasi para karyawan benar-benar mengharukan, mereka tidak hanya bertugas merawat satwa, tetapi kini menjadi pejuang yang memutar otak demi menjaga setiap penghuni kebun binatang tetap mendapat nutrisi yang layak.

Sejumlah langkah strategis pun diterapkan, yakni panen mandiri dari dalam area zoo untuk satwa pemakan ikan seperti berang-berang dan berbagai jenis burung. Pengelola kini memanfaatkan ikan hasil panen dari kolam-kolam internal dan memodifikasi menu karnivora secara ekstrem.

Baca Juga  Ineu P Sundari : SMKN I Pacet Hasilkan Lulusan Siap Kerja

Menurut Aan, harga pakan karnivora adalah yang paling membebani, Bandung Zoo terpaksa mengganti porsi daging sapi dengan daging domba atau kambing.

“Kami sudah memotong 7 ekor domba selama sebulan terakhir, dagingnya dicampur dengan ayam, setiap karnivora mendapat 5 kg ayam dan 1 kg daging domba,” ujar Aan.

Sementara untuk satwa herbivora, kata Aan pihaknya mengoptimalkan setiap jengkal tanah. Rumput lapang yang dibiarkan tumbuh, menjadi sumber utama pakan hewan herbivora, dan melengkapi rumput gajah hasil tanam sendiri. Sedang untuk kebutuhan buah, dua kebun pisang internal menjadi penyumbang terbesar.

“Pisang dari kebun akan dialokasikan untuk satwa pemakan buah, sementara jenis pisang yang tidak tersedia tetap akan kami beli dari luar,” ungkap Aan.

(Ida)