Tim Mahasiswa ITB Wakili Indonesia, Paparkan Inovasi Platform Prediksi dan Verifikasi Banjir di Ajang AI Singapura

Singapura, BriliaNews.com – Tim mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menjadi representasi Indonesia di kompetisi regional AI Ready ASEAN Youth Challenge di Singapura setelah memenangkan juara 1 nasional.

Mereka mengungguli 300 tim se-Indonesia lainnya dengan membawakan inovasi “Noah AI”, platform sistem prediksi dan verifikasi banjir berbasis kecerdasan buatan (AI) terintegrasi yang dibuat dalam tiga pekan.

Kompetisi ini diadakan oleh ASEAN Foundation, AI Singapore, dan AngelHack pekan lalu.

Tim mahasiswa ITB ini bernama “Iseng Hackaton”, yang terdiri atas tiga mahasiswa STEI ITB, yakni Ari Aziz, Jason Edward Salim, dan Tiffany Chu.

Di regional, tim “Iseng Hackaton” bersaing bersama perwakilan 11 negara ASEAN lainnya. Mereka mempresentasikan inovasinya melalui sesi booth exhibition yang dinilai oleh juri dari ASEAN Foundation serta organisasi penyelenggara lainnya.

Ajang ini turut dihadiri sejumlah menteri dari negara ASEAN, termasuk Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Indonesia. Selain itu, presentasi finalis juga disaksikan langsung oleh Presiden Singapura.

Baca Juga  UPI Naik Peringkat di QS World University Rankings 2026

“Kami merasa punya tanggung jawab besar karena membawa nama Indonesia. Apalagi saat pitching langsung di depan banyak orang termasuk Presiden Singapura menggunakan bahasa Inggris, jadi cukup deg-degan,” ucap salah satu anggota tim dari STEI ITB, Ari Aziz.

Ia menjelaskan, pembuatan Noah AI dilatarbelakangi dari maraknya kasus banjir yang terjadi di Indonesia, seperti di DKI Jakarta, termasuk banjir besar yang sempat melanda Kota Medan pada 2025.

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sistem prediksi dan verifikasi banjir saat ini sudah tersebar namun belum terintegrasi secara menyeluruh.

Mengatasi masalah tersebut, tim membuat solusi yang menggabungkan semua sistem menjadi satu platform terpusat.

Anggota tim lainnya, Jason Edward Salim menjelaskan, Noah AI memiliki tiga fitur utama.

Pertama, prediksi banjir. Proses prediksi banjir dilakukan dengan mengambil data eksternal, seperti Google Flood Hub, OpenWeatherMap API, dan sumber lainnya untuk melatih model AI—Long Short-Term Memory (LSTM)—yang digunakan untuk memprediksi kapan terjadinya banjir.

Baca Juga  Pendaftaran PPDB Kota Bandung Dibuka 13 Juni Mendatang

Fitur kedua, verifikasi. Proses verifikasi banjir dilakukan dengan menggunakan CCTV jalan yang tersedia. Mereka melatih model computer vision—YOLOv8—untuk mendeteksi kenaikan air di jalan.

Fitur ketiga, alert system untuk memberi peringatan kepada masyarakat mengenai potensi banjir ringan maupun banjir berbahaya. Alert direncanakan dikirim melewati SMS yang mampu menjangkau semua kalangan.

Selanjutnya, tim akan mengembangkan two-way SMS alert agar masyarakat dapat berkomunikasi dua arah, seperti meminta bantuan atau rescue guidance.

AI Ready ASEAN Youth Challenge merupakan kompetisi ideathon tingkat regional yang bertujuan memberdayakan generasi muda di Asia Tenggara, untuk memanfaatkan potensi transformatif kecerdasan buatan (AI) bagi kepentingan sosial.

Kompetisi ini dirancang untuk meningkatkan literasi AI, memperkuat kolaborasi regional, serta mendorong lahirnya dampak nyata bagi masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.

(Adi)