UPI Kukuhkan 14 Guru Besar, Prof. Eka Cahya Prima Jadi Guru Besar Termuda

Kota Bandung, BriliaNews.com – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengukuhkan 14 Guru Besar yang dilaksanakan dalam upacara selama 2 hari pada Kamis dan Jumat (7-8/5/2026) di Gedung Achmad Sanusi Kota Bandung.

Delapan dari empat belas Guru Besar yang dikukuhkan pada hari pertama adalah Prof. Dr. Zainal Arifin M.Pd., Prof. Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd., Prof. Dr. Wawan Gunawan, P.Hd., Prof. Dr. Jarnawi Afgani Dahlan, M.Kes., Prof. Dr. rer. nat. Asep Supriatna, M.Si., Prof. Dr. Eka Cahya Prima, S.Pd., M.T., Prof. Dr. Dadi Rusdiana, M.Si., serta Prof. Dr. Indra Mamat Gandidi, S.T., M.T.

Prof. Dr. Eka Cahya Prima, S.Pd., M.T., merupakan Guru Besar termuda di UPI yang menduduki jabatan Guru Besar dalam usia 35 tahun.

Sementara 6 Guru Besar lainnya dikukuhkan pada hari kedua yakni Prof. Dr. Wawan Darmawan, S.Pd., M.Hum., Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T, M.Sc., Prof. Dr. Nanang Supriatna, S.Sen., M.Pd., Prof. Dr. Mustika Fitri, M.Pd., Ph.D., Prof. Dr. Indra Safari, M.Pd., dan Prof. Dr. Bambang Abduljabar, M.Pd.

Rektor UPI Prof. Didi Sukmayadi mendorong para dosen untuk menjadi Guru Besar semuda mungkin.

“Dengan semakin muda, maka masa produktivitasnya akan semakin panjang. Risetnya juga bisa dimulai lebih dini,” ujarnya.

Rektor menyatakan kehadiran guru besar di sebuah perguruan tinggi amat penting, baik karena jumlahnya yang masih sangat terbatas maupun karena peran yang dituntut dari para Guru Besar tersebut.

Ia mengungkapkan, hingga awal 2026, jumlah Guru Besar di Indonesia hanya sekitar 2-3% dari sekitar 340.000 dosen.

Angka ini masih jauh di bawah kebutuhan ideal yaitu 10-15 persen, untuk memperkuat kapasitas doktoral, riset, dan tata kelola perguruan tinggi nasional.

Baca Juga  Peringatan Hardiknas, Wali Kota Pastikan Persiapan PTM Matang

UPI sendiri sudah memiliki Guru Besar dengan angka ideal, yaitu 15,60 persen atau 253 Guru Besar dari 1.628 dosen yang ada saat ini.

“Meski jumlahnya sudah termasuk ideal, namun UPI tetap menaruh perhatian serius, baik dalam percepatan jumlah maupun dalam peningkatan kualitas dan dampak kegurubesaran, sehingga tidak hanya berhenti di publikasi, atau penunaian tugas-tugas akademik rutin semata,” tuturnya.

Prof. Didi menambahkan, bagi UPI bertambahnya jumlah Guru Besar ini akan memberikan dampak yang luar biasa, karena akan memperkuat tridharma yang menjadi tugas pokok universitas, baik dari sisi pengajaran, riset, serta pengabdian kepada masyarakat. 

Selain itu, juga akan berdampak kepada masyarakat, khususnya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Contohnya salah satu riset terkait pencarian energi alternatif selain energi fosil, yang salah satunya adalah penggunaan sel surya.

Rektor menuturkan salah satu Guru Besar tengah menekuni pengembangan sel surya yang ramah lingkungan, dengan menggunakan bahan yang bisa di daur ulang. Ada juga yang menekuni permasalahan sampah.

“Riset seperti ini bukan hanya penting bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi juga bagi masyarakat.
Dengan demikian, keberadaan guru besar yang “berdampak” bukan semata slogan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Guru Besar UPI Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., menyatakan, para Guru Besar yang dikukuhkan memiliki kepakaran yang beragam, mulai dari pengembangan Artificial Intelligence (AI), energi alternatif, hingga pangan.

Salah satunya, Prof. Eka Cahya Prima, Guru Besar termuda di UPI, yang mengangkat tesis Inovasi Material Sel Surya melalui Pendekatan Teori dan Spektoskropi Sebagai Solusi Strategis Krisis Energi dan Perubahan Iklim Global”.

Baca Juga  Presiden Prabowo Lantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Gantikan Purbaya

Demikian pula Prof. Dadi Rusdiana, tesisnya mengangkat bidang ilmu yang belum banyak diketahui masyarakat.

Prof. Dadi memiliki kepakaran pada bidang Fisika Material Optoelektronik, dengan mengangkat tesis Pemanfaatan Material Semikonduktor Baru Dalam Rekayasa Piranti Optoelektronik Fotodetektor Sebagai Kontribusi Nyata Terhadap Pengembangan Teknologi Informasi Dan Energi Dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Bangsa.

Selain itu, Prof. Dr. Indra Mamad Gandidi mengangkat tesis menarik, dengan judul Integrasi Teknologi Informasi Dan Konversi Termokimia Dalam Trasformasi TPA Desentralisasi: Paradigma Baru Pengelolaan Sampah Padat Perkotaan, mengingat masalah sampah, khususnya di Kota Bandung yang masih belum selesai.

Sementara itu Guru Besar termuda, Prof. Eka Cahya Prima kepada wartawan menyampaikan, pihaknya bersama mahasiswa UPI tengah mengembangkan sel surya dengan bahan organik maupun anorganik di laboratorium sel energi surya yang ia bangun.

“Saya dibimbing Pak Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto. Dukungan dari UPI juga luar biasa,” tuturnya.

Ia menegaskan perlunya pengembangan energi yang tidak hanya berbasis energi fosil, namun juga energi ramah lingkungan.

Namun demikian, salah satu tantangan dalam penelitiannya adalah memiliki laboratorium yang baik dan berkualitas, terutama untuk material nano teknologi yang masih diimpor dari luar negeri.

“Oleh karena itu, kami tengah mengembangkan material yang berbahan lokal, sehingga bisa digunakan dan bermanfaat bagi peneliti di Indonesia,” ungkapnya.

Pewarta : Adi
Editor. : Sri