Kota Cirebon, BriliaNews.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerjasama dengan Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) dan Duta Literasi Keuangan Media Massa, menggelar Seminar Nasional Financial Planing and Anti Scam Awareness di Kantor OJK Cirebon, Jumat (12/6/2026).
Plh. Kepala Kantor OJK Cirebon Tesar Pratama Gustarsjidi mengungkapkan, seminar ini merupakan salah satu langkah OJK dalam upaya meningkatkan literasi keuangan, khususnya kepada mahasiswa.
Tessar mengatakan, saat ini gap antara tingkat literasi dan inklusi keuangan di masyarakat masih cukup besar.
Berdasarkan Survey Nasional 2025 tingkat literasi keuangan masyarakat sebesar 66 persen, sedangkan tingkat inklusi masyarakat ada di angka 80 persenan.
“Jadi ada gap kurang lebih 14 persen. Dan itu harus kita kejar, karena saat ini sudah banyak yang menggunakan produk jasa keuangan tapi belum memahami manfaat dan juga resikonya,” jelasnya.
Menurut Tessar, mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap resiko penggunaan layanan keuangan.
Ia menegaskan, masyarakat yang menggunakan produk industri keuangan, perlu memahami hak dan kewajiban mereka. Hal ini termasuk biaya denda, bagaimana sistem dendanya, termasuk biaya pinalti saat ingin menyelesaikan pinjaman lebih cepat dari kontrak perjanjian.
“Termasuk juga iming-iming dari investasi ilegal, yang cukup marak juga di Cirebon,” ungkap Tessar.
Ia mengungkapkan, di Cirebon pada tahun 2025, ada hampir 2000 aduan terkait jasa keuangan ilegal. Yang paling tinggi adalah aduan terkait penyalahgunaan identitas untuk digunakan pada pinjol.
“Selain itu banyak juga aduan modus penipuan transfer balik, dimana penipu mendaftarkan korban ke pinjol, yang kemudian meminta untuk di transfer balik ke rekening penipu untuk membatalkan pinjaman. Karena pinjamannya tidak dibatalkan, korban tetap ditagih dari pemberi pinjaman online,” ungkapnya.
Ia berharap melalui seminar ini, dapat memperkuat literasis keuangan mahasiswa, sehingga mereka memiliki perencanaan keuangan yang baik, serta terhindar dan menjadi garda informasi terhadap scam di masyarakat.
Di saat yang sama Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGJ Cirebon H. Acep Komara menyatakan, di tengah derasnya informasi dan semakin mudahnya akses ke produk industri jasa keuangan pada jaman digital ini, para mahasiswa perlu memiliki literasi terhadap produk-produk keuangan baik yang legal maupun ilegal sehingga bisa terhindar dari penipuan.
“Mahasiswa bukan hanya subjek, tetapi juga bisa menjadi objek dalam literasi keuangan. Karena itu, mereka harus menjadi pihak pertama yang mendapatkan pemahaman ini,” tuturnya.
Menurut Acep, ada tiga hal yang perlu diperkuat di kalangan mahasiswa.
Pertama, literasi investasi untuk mendorong lahirnya investor muda yang dapat memperkuat perekonomian nasional, sehingga dengan bertambahnya jumlah investor dari kalangan muda, maka roda ekonomi bisa bergerak lebih maju.
Kedua, literasi perencanaan keuangan. Mahasiswa yang kelak memasuki dunia kerja, perlu dibekali kemampuan merencanakan keuangan masa depan secara bijak.
“Ini penting agar tidak terjebak dalam masalah finansial,” jelas Acep.
Ketiga, literasi tentang penyalahgunaan produk keuangan dan penipuan. Di Cirebon sendiri, Acep seringkali mengdengar adanya modus investasi bodong, judi online, hingga scam yang kerap menyasar mahasiswa.
“Mereka rentan karena kebutuhan dana untuk kuliah sering dimanfaatkan pelaku penipuan. Bahkan ada modus mencatut nama pimpinan universitas untuk menipu mahasiswa,” pungkas Acep.
(Adi)






