Kota Bandung, BriliaNews.com – Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan Netravest, rompi navigasi cerdas berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali objek dan kondisi lingkungan secara real time.
Perangkat wearable ini menggabungkan teknologi computer vision, sensor Light Detection and Ranging (LiDAR), sensor fusion, bone conduction, dan sistem peringatan berbasis getaran, sebagai teknologi pendamping tongkat putih untuk mendukung mobilitas di ruang publik.
Netravest dikembangkan oleh lima orang mahasiswa UPI, Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan yang didampingi oleh dosen pembimbing, Muhammad Taufik Dwi Putra, S.Tr.Kom., M.T.I., melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026.
Ketua Tim Netravest, Raden Farhan Rizki Septrian mengungkapkan, pengembangan prototipe dimulai pada Juni 2026 dan selesai akhir Juli 2026.
“Sejak Agustus hingga September 2026, perangkat memasuki tahap pemantauan dan pengujian fungsional untuk mengevaluasi kemampuan sistem, sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu disempurnakan,” ujarnya Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, gagasan Netravest berangkat dari proses diskusi dan wawancara dengan penyandang tunanetra. Tim berupaya memahami secara langsung tantangan yang dihadapi pengguna ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, terutama ketika berada di lingkungan yang belum dikenal.
Hasil pemetaan kebutuhan menunjukkan bahwa tongkat putih sebagai alat bantu mobilitas utama, memiliki keterbatasan dalam mendeteksi sejumlah objek. Rintangan yang berada di atas jangkauan tongkat, seperti spanduk, baliho, atau papan reklame yang rendah, dapat luput dari deteksi.
Demikian pula kondisi permukaan jalan, termasuk lubang atau objek tertentu yang berpotensi mengganggu mobilitas, membutuhkan mekanisme deteksi tambahan.
Atas dasar itu, Netravest tidak dirancang untuk menggantikan tongkat putih, namun dikembangkan sebagai alat bantu pelengkap yang memperluas informasi spasial yang dapat diterima pengguna.
“Tujuan kami bukan menggantikan tongkat, tetapi memberikan informasi tambahan kepada pengguna mengenai apa yang ada di sekitar mereka, sehingga mobilitas dapat dilakukan dengan lebih aman dan mandiri,” tutur Raden Farhan.
Salah satu komponen utama Netravest adalah sistem computer vision yang menggunakan algoritma pendeteksi objek YOLOv8n.
Sistem tersebut dikembangkan menggunakan lebih dari 30.000 dataset dan mencakup lebih dari 20 kelas objek rintangan.
Kamera pada perangkat digunakan untuk menangkap kondisi lingkungan dan mengenali objek yang berpotensi mengganggu mobilitas. Sistem juga dirancang untuk mendeteksi rintangan pada bagian bawah maupun atas bidang pandang pengguna.
Untuk meningkatkan kemampuan pengukuran jarak, Netravest menggunakan sensor LiDAR. Sensor ini bekerja dengan memancarkan pulsa laser dan mengukur waktu pantulan kembali dari objek, sehingga sistem dapat memperoleh informasi mengenai jarak objek.
Kedua sumber informasi tersebut kemudian digabungkan melalui sensor fusion. Pendekatan ini memungkinkan kamera dan LiDAR saling melengkapi, terutama ketika karakteristik suatu objek tidak cukup terdeteksi hanya melalui satu sensor.
Informasi hasil deteksi disampaikan kepada pengguna melalui audio dengan teknologi bone conduction. Teknologi tersebut dipilih agar pengguna tetap dapat mendengar suara lingkungan sekitar dan tidak menutup saluran pendengaran, sebagaimana penggunaan earphone konvensional.
Selain audio, Netravest memberikan umpan balik berupa getaran sebagai informasi tambahan
“Dalam pengujian, sistem memberikan peringatan ketika objek berada pada kisaran sekitar 110–150 sentimeter dari pengguna. Untuk fungsi tertentu, waktu pemrosesan pendeteksian dapat mencapai sekitar 200 milidetik.
Teknologi bone conduction juga digunakan pada fitur pengenalan nominal mata uang rupiah. Pengguna cukup menempatkan uang di depan kamera, dengan jarak pengujian sekitar 30 sentimeter. Setelah sistem mengenali nominal, informasi tersebut disampaikan melalui audio.
Kemampuan kamera juga dikembangkan untuk menghadapi kondisi pencahayaan yang berbeda. Sistem memiliki dukungan night vision, sehingga dapat membantu proses pengenalan objek ketika kondisi lingkungan minim cahaya.
Netravest juga membawa fungsi keselamatan melalui sistem SOS yang terintegrasi dengan aplikasi pendamping
Sebagai prototipe, Netravest saat ini memiliki bobot sekitar 2 kilogram dan bisa digunakan hingga sekitar 8 jam.
Tim menargetkan pengurangan bobot hingga sekitar 1 kilogram melalui miniaturisasi unit pemrosesan dan komponen elektronik.
Baterai yang digunakan saat ini dirancang untuk mendukung penggunaan hingga sekitar 8 jam. Namun, ukuran baterai masih menjadi salah satu komponen yang ingin diperkecil oleh tim tanpa mengurangi durasi penggunaan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Prof. Dr. Hj. Siti Nurbayani Kusumaningsih, M.Si., mengapresiasi pengembangan Netravest, sebagai salah satu bentuk prestasi mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa.
Ia menilai, capaian tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian sosial dapat diarahkan menjadi solusi bagi masyarakat.
“Kami bangga melihat perkembangan prestasi mahasiswa, khususnya melalui Program Kreativitas Mahasiswa. Netravest menjadi salah satu karya yang membanggakan karena mengusung skema PKM-KC dan tidak hanya menghasilkan sebuah teknologi, tetapi menunjukkan bagaimana ilmu, kreativitas, dan kepedulian sosial mahasiswa dapat diubah menjadi solusi nyata bagi masyarakat, khususnya bagi penyandang tunanetra,” tuturnya.
Ia berharap penelitian ini tidak berhenti pada pencapaian penghargaan, tetapi memiliki nilai tambah berupa manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Prof. Siti juga berharap pengembangan Netravest dapat terus dilanjutkan sehingga memberikan inspirasi bagi mahasiswa lain untuk menghasilkan karya yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Selamat kepada tim Netravest. Terus berkembang dan mudah-mudahan ke depannya menjadi orang-orang yang sukses karena telah menghasilkan karya yang membanggakan Universitas Pendidikan Indonesia,” tutup Prof. Siti..
(Adi)






