Kota Bandung, BriliaNews.com — Keterbatasan jaringan internet, jarak geografis, dan tanggung jawab keluarga, tidak menghentikan tiga guru asal Maluku, Charlota Janeta Lahatu, Rachel Yetti Tahapary, dan Hetna Sapulete, untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Ketiganya berhasil menuntaskan studi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).
Perjuangan mereka berlangsung di tengah tantangan, juga dialami rekan-rekan sesama mahasiswa asal Maluku.
Berdasarkan data Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI, 18 dari total 33 mahasiswa asal Maluku tidak dapat menghadiri prosesi Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 karena kendala karhutla, kabut asap, jarak tempat tinggal ke bandara, dan biaya perjalanan.
Selama mengikuti perkuliahan jarak jauh, Charlota, Rachel, dan Hetna mengandalkan telepon pintar untuk mengikuti pembelajaran daring melalui aplikasi Zoom.
Keterbatasan jaringan internet di tempat tinggal mereka kerap menghambat proses pembelajaran, komunikasi dengan dosen dan rekan mahasiswa, serta pengumpulan tugas akademik.
Rachel Yetti Tahapary mengisahkan bahwa ia harus pergi ke kampung tetangga untuk mendapatkan sambungan internet.
“Saya mesti lari ke kampung sebelah untuk mencari sinyal,” ungkapnya, Jumat (16/10/2026).
Bahkan ketika hujan turun, Rachel tetap berusaha mencari jaringan agar dapat mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas. Kendala tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.
Ketiganya juga harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan tanggung jawab keluarga. Dukungan suami dan anak-anak serta bantuan melalui program pemerintah, turut membantu mereka menyelesaikan pendidikan.
Setelah menuntaskan studi, ketiganya berupaya menghadiri wisuda secara langsung di kampus UPI, Bandung. Mereka menyisihkan uang untuk membiayai perjalanan dari Maluku ke Jawa Barat dengan transportasi laut.
Keinginan untuk bertemu langsung dengan dosen dan rekan mahasiswa yang selama ini berinteraksi melalui pembelajaran daring, membuat prosesi wisuda memiliki arti tersendiri bagi mereka.
Charlota, Rachel, dan Hetna berpesan agar para guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana tidak mudah menyerah meskipun menghadapi kendala biaya maupun jarak.
Bagi mereka, ketekunan, doa, dan dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam menyelesaikan perjalanan akademik.
Keberhasilan mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa kesempatan meningkatkan kualifikasi akademik, perlu disertai dukungan yang mempertimbangkan kondisi nyata para pendidik di berbagai wilayah Indonesia.
Namun demikian, kesempatan untuk menghadiri seremoni kelulusan, tidak dapat dirasakan oleh seluruh rekan mereka.
Data PGPAUD FIP UPI menunjukkan bahwa 18 dari 33 mahasiswa asal Maluku tidak hadir pada Wisuda Gelombang IV Tahun 2026.
Selain dampak kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap, kendala jarak dari tempat tinggal menuju bandara dan keterbatasan biaya perjalanan turut memengaruhi kehadiran mereka.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Prof. Dr. Vanessa Gaffar, S.E., Ak., MBA., menyampaikan keprihatinannya, terhadap kondisi para wisudawan yang tidak dapat hadir karena keadaan di luar kendali mereka.
“Kami turut prihatin kepada para wisudawan yang tidak bisa hadir ke sini bukan karena tidak ingin, tetapi karena force majeure,” ujar Vanessa saat pelaksanaan Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Bandung, Jumat (16/10/2026).
Vanessa menjelaskan bahwa ketidakhadiran dalam prosesi wisuda tidak menghapus status kelulusan mahasiswa maupun hak mereka, untuk memperoleh dokumen akademik. Lulusan yang telah memenuhi persyaratan administrasi tetap dapat mengakses ijazah elektronik, sertifikat, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) melalui sistem UPI.
“Ini sebetulnya hanya proses selebrasinya saja mungkin yang tidak bisa hadir. Tapi tidak berarti tidak mendapatkan ijazah,” katanya.
UPI juga menyediakan kesempatan bagi wisudawan yang belum dapat menghadiri prosesi pada Oktober untuk mengikuti wisuda pada gelombang berikutnya yang dijadwalkan pada Desember 2026.
Vanessa meminta para lulusan yang ingin mengikuti prosesi tersebut segera menyampaikan keinginan mereka kepada program studi masing-masing. Informasi itu diperlukan agar program studi dapat mendata wisudawan terdampak dan melaporkannya kepada Direktorat Pendidikan UPI untuk proses selanjutnya.
Kebijakan akses dokumen akademik secara elektronik memungkinkan lulusan memperoleh dokumen kelulusan tanpa harus menunggu kehadiran dalam seremoni wisuda.
Dengan demikian, kendala perjalanan tidak serta-merta menghalangi lulusan dalam memperoleh dokumen akademik yang menjadi hak mereka setelah memenuhi ketentuan kelulusan.
Pengalaman tiga guru asal Maluku tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran jarak jauh dapat membuka kesempatan pendidikan tinggi bagi pendidik yang tinggal jauh dari pusat pendidikan.
Pada saat yang sama, pengalaman rekan-rekan mereka yang tidak dapat hadir dalam wisuda menunjukkan bahwa hambatan geografis, keterbatasan infrastruktur, bencana, dan biaya masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Bagi UPI, pengalaman ini menjadi bahan evaluasi mengenai pentingnya dukungan akademik, akses teknologi, dan pelayanan administrasi yang dapat menjangkau mahasiswa dengan kondisi geografis beragam.
“Ke depan, penyediaan informasi yang jelas mengenai akses dokumen elektronik dan mekanisme mengikuti wisuda pada gelombang berikutnya diharapkan membantu lulusan memperoleh layanan akademik sesuai hak dan ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.
(*)





