Kota Bandung, BriliaNews.com – Semangat melestarikan batik mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus tumbuh di tingkat kewilayahan, khususnya Batik Ciprat yang dikembangkan warga RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.
Berawal dari pelatihan membatik yang digelar di Sentra Wyata Guna, Batik Ciprat kini terus dikembangkan oleh warga secara mandiri. Dengan memproduksi batik berdasarkan pesanan, mulai dari kain, pakaian hingga ikat kepala.
Ketua Kelompok Batik Ciprat, Yuliana mengatakan, pelatihan tersebut menjadi awal bagi warga untuk mengembangkan keterampilan membatik menjadi kegiatan produktif.
“Setelah pelatihan, kami diberikan modal dan diminta melanjutkan produksi di sini. Alhamdulillah sampai sekarang selalu ada pesanan,” ujar Yuliana, Senin (5/10/2026).
Sejumlah produk Batik Ciprat RW 07 bahkan telah dipesan dari luar wilayah, di antaranya dari Tasikmalaya,dan Cimahi.
Keunikan Batik Ciprat terletak pada proses pembuatannya. Motif dibentuk dengan teknik ciprat menggunakan lilin, kemudian melalui proses pewarnaan, pencucian, hingga penjemuran yang dilakukan beberapa kali. Proses tersebut menggunakan waterglass sebagai pengunci warna agar hasil batik lebih kuat dan tidak mudah luntur.
Kain Batik Ciprat dibanderol sekitar Rp130 ribu hingga Rp150 ribu, sedangkan produk berupa pakaian mulai dari sekitar Rp250 ribu.
(rel/adi)






