Tim Mahasiswa ITB Kembangkan Hidrogel Teh Hijau dan Postbiotik untuk Luka Kaki Diabetik

Kota Bandung, BriliaNews.com — Lima mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan hidrogel berbasis ekstrak teh hijau dan postbiotik, sebagai kandidat pembalut luka untuk membantu menangani infeksi pada ulkus kaki diabetik (diabetic foot ulcer/DFU).

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Hafif Rois Abdillah (STF’23), Theodore Marvel Suranton (BI’23), M. Kevin Rizsya Zulkarnain (BM’23), Gustav Ian Setiabudi (STF’23), dan Abiyyu Ilham Dyas (STF’23).

Penelitian yang melibatkan mahasiswa Sekolah Farmasi serta Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB ini, memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 2026.

Salah satu anggota tim pengembang, Hafif Rois Abdillah (STF’23) menjelaskan, infeksi bakteri pada luka dapat semakin sulit ditangani, karena kemampuan bakteri membentuk biofilm serta menggunakan efflux pump, yakni mekanisme yang dapat meningkatkan ketahanan bakteri terhadap paparan antimikroba.

Tim berfokus pada dua bakteri, yakni Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.

“Yang kami targetkan bukan hanya menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi juga mengganggu mekanisme virulensi yang membuat bakteri lebih sulit dikendalikan,” ujar Hafif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan hidrogel dari kombinasi hyaluronic acid (HA) dan polyvinyl alcohol (PVA), sebagai sistem penghantaran lokal ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) dan postbiotik bakteri asam laktat.

“HA membantu meningkatkan kemampuan hidrogel menyerap cairan luka, sedangkan PVA berperan mempertahankan kekuatan dan bentuk hidrogel.Menyeleksi Teh Hijau dan Postbiotik,” ungkap Hafif.

Baca Juga  ITB Buka Peluang Double Degree dan Joint Research dengan Tiga Kampus Top Belanda

Sementara itu, Theodore Marvel Suranton (BI’23) mengatakan dalam proses penelitian, tim membandingkan ekstrak teh hijau dari Pangalengan dan Ciwidey serta postbiotik dari Lactobacillus acidophilus dan Pediococcus acidilactici.

Hasil pengujian menunjukkan ekstrak teh hijau Ciwidey memiliki kandungan senyawa fenolik lebih tinggi dibandingkan ekstrak Pangalengan.

Sementara itu, P. acidilactici menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih kuat dibandingkan L. acidophilus.

“Pemilihan bahan aktif dilakukan berdasarkan rangkaian pengujian, sehingga kandidat yang masuk ke tahap formulasi merupakan bahan yang menunjukkan potensi paling baik,” ujar Theodore.

Pengujian selanjutnya menunjukkan postbiotik P. acidilactici memiliki aktivitas antibiofilm yang baik.

Ekstrak teh hijau juga menunjukkan potensi dalam menghambat efflux pump serta meningkatkan aktivitas beberapa antibiotik, termasuk siprofloksasin dan tetrasiklin.

Berdasarkan hasil tersebut, tim kemudian mengombinasikan ekstrak teh hijau dan postbiotik ke dalam formulasi hidrogel untuk dikembangkan lebih lanjut.

Hasil pengujian menunjukkan kombinasi ekstrak teh hijau dan postbiotik mampu mempertahankan viabilitas sel keratinosit HaCaT di atas 70 persen pada rentang konsentrasi yang diuji.

Sementara itu, M. Kevin Rizsya Zulkarnain (BM’23) mengungkapkan, pengujian hemolisis menunjukkan tingkat hemolisis yang tinggi. Temuan tersebut menjadi pertimbangan bagi tim untuk mengarahkan pengembangan sistem ini pada penggunaan topikal atau pada permukaan tubuh, bukan penggunaan sistemik.

Baca Juga  Tim Bumi Siliwangi 1 UPI Raih Juara III KMHE 2026 Kelas Motor Listrik

“Temuan ini memberi kami batasan yang jelas dalam pengembangan berikutnya. Kami perlu memastikan sistem penghantaran dan penggunaannya sesuai dengan karakteristik bahan yang kami miliki,” ujar Kevin.

Lebih lanjut, Gustav Ian Setiabudi (STF’23) mengungkapkan, tim juga menyeleksi sejumlah formulasi hidrogel untuk mendapatkan karakteristik fisik yang sesuai. Dari proses optimasi tersebut, formulasi dengan rasio PVA dan HA 70:30 dipilih untuk dikembangkan pada tahap berikutnya.

“Bahan aktif yang potensial harus didukung sistem hidrogel dengan karakteristik fisik yang sesuai. Karena itu, optimasi formulasi menjadi bagian penting dari penelitian ini,” tutur Gustav.

Abiyyu Ilham Dyas (STF’23) mengungkapkan, penelitian selanjutnya akan berfokus pada karakterisasi fisik dan mekanik hidrogel, termasuk kemampuan menyerap dan mempertahankan cairan, kekuatan, daya lekat, serta kemampuannya menghantarkan bahan aktif dan menghambat bakteri maupun biofilm.

Tim berharap penelitian tersebut dapat menjadi dasar pengembangan pembalut luka berbasis bahan alam dan postbiotik yang lebih terarah serta membuka peluang penelitian lanjutan, publikasi ilmiah, dan pengembangan kekayaan intelektual.

“Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk penelitian lanjutan hingga suatu saat bisa dikembangkan menjadi solusi yang lebih aplikatif dalam penanganan luka,” ujar Abiyyu.

(rel/adi)