Dedi Mulyadi Ajak Insinyur Indonesia Selesaikan Masalah Transportasi dan Lingkungan di Jabar

Kota Bandung, BriliaNews.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
menyatakan, Jawa Barat sangat memerlukan engineer untuk menyelesaikan masalah warga yang bersifat jangka pendek atau dihadapi setiap hari. Contohnya, kemacetan dan banjir di Kota Bandung.

Masalah kecil seperti kemacetan di kota-kota di Jawa Barat tumbuh karena transportasi belum tertata dengan baik. Oleh karena itu, Dedi Mulyadi menawarkan solusi bagi pengganti angkutan umum yang sudah tua dengan angkutan umum baru.

“Tidak usah lagi stor pada tuannya tetapi dibuat karakter wilayah, dimana nanti mobilnya ramah lingkungan, ramah anak, ramah ibu hamil kemudian juga memberikan kesejahteraan bagi para sopir,” kata Dedi Mulyadi dalam acara 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 44) yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Bandung, Jawa Barat, mulai hari ini, Selasa (20/10/2026).

Baca Juga  Tim Medis BUMN Farmasi Sebar Vaksin Tetanus dan Flubio Kepada Warga Terdampak Gempa Bumi di Cianjur

Ia juga berpesan agar para insinyur melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan kode etik. “Di dunia kedokteran itu ada ‘mal praktek’ dan kemudian nanti itu dibahas di dewan etik dan kemudian ada sanksi. Para insinyur ini sebenarnya sama dengan dunia kedokteran, problem yang terjadi diakibatkan salah perencanaan, salah teknis engineering pengelolaan itu harus secara terbuka
diomongin,” paparnya.

Dewan etik dari PII bisa memberikan putusan hukuman dan sanksi ringan hingga berat (blacklist) tidak lagi bekerja pada sektor riil yang ada di Indonesia, bagi engineer yang melanggar kode etik.

Baca Juga  Perlu Pemerataan Dokter Gigi Spesialis Sampai ke Pelosok Daerah

Smentara itu, Ketua Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie menyatakan, pihaknya siap melakukan
kerjasama dengan pemerintah daerah, salah satunya dalam sektor transportasi.

“Transportasi umum dalam bentuk angkot ini memang kita mencari sesuatu yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Konsep secara umum tetap ada lapangan pekerjaan untuk para pengemudi angkot. Jadi konsep telah diubah pengemudi angkot kedepan mereka seperti UKM dia akan memiliki sendiri,” paparnya.

Menurutnya, wahana tranportasi sendiri juga harus diubah menjadi wahana elektronik, ada elektrifikasi pada angkot dan juga standarisasi.

(rel/adi)