Tahun 2022 Pasar Modal Indonesia Catatkan Kinerja Positif Meski IHSG Bergerak Sangat Fluktuatif

Bandung, BriliaNews.com – BriliaNews.com – Ada banyak peristiwa global di tahun 2022 yang membuat para investor khawatir, seperti meningkatnya tensi geopolitik Rusia dan Ukraina, lockdown di china, terganggunya jalur distribusi global, tekanan inflasi global dan kebijakan ekonomi Bank Sentral Amerika.

Di tengah kekhawatiran tersebut, justru Pasar Modal Indonesia mencatatkan kinerja yang positif.

“Tahun 2022 ini Pasar Modal Indonesia mencatatkan kinerja yang impressive, walau sepanjang tahun Indeks Harga Saham Habungan (IHSG) bergerak sangat fluktuatif dengan level terendahnya 6.768,3 dan level tertingginya 7.318,” ucap Kepala Bursa Efek Indonesia Prov. Aceh Dr. Thasrif Murhadi, Senin (2/1/2023).

Thasrif mengatakan,
hingga penutupan perdagangan bursa tahun 2022, IHSG berhasil mencatat kinerja yang positif, secara year to date (ytd) mengalami kenaikan sebesar 4,08%.

“Kinerja positif IHSG ini merupakan salah satu kinerja terbaik diantara bursa-bursa negara ASEAN dan juga dibanding bursa kawasan Asia Pasifik,” tuturnya.

Thasrif menjelaskan, nilai rata-rata transaksi harian Bursa Efek Indonesia pada tahun 2022, mengalami kenaikan 9,98% dibanding tahun lalu, yaitu 14,71 Triliun dengan total trading value secara year to date (ytd) sebesar 3.628 triliun.

Baca Juga  Ridwan Kamil Apresiasi Kinerja ADPMET Perjuangkan Bagi Hasil Lebih Berkeadilan

Investor asing mencatatkan net buy sebesar 60,57 Triliun, dan juga terdapat 59 emiten baru sepanjang 2022. Dengan demikian total jumlah emiten yang tercatat di BEI mencapai 825 emiten. Market capitalisasi Pasar Modal Indonesia, juga mengalami peningkatan menjadi 9.529,86 triliun atau naik 15,2% dibanding tahun sebelumnya.

“Jumlah investor di pasar modal Indonesia juga mengalami peningkatan yang signifikan, sebesar 37,53% atau menjadi >10 Jt investor,” ucapnya.

Menurutnya kinerja positif IHSG ini ditopang oleh saham-saham sektor energi, yang pada tahun 2022 ini mengalami kenaikan 100,40%. Selain itu sektor industrial juga mengalami kenaikan rata-rata 13,42% dan sektor kesehatan yang mengalami kenaikan rata-rata 9,46%.

Thasrif mengatakan, ketegangan hubungan antara Rusia dan Ukraina menyebabkan harga beberapa komoditas mengalami peningkatan, seperti coal yang naik 138,30% (ytd), nikel naik 45,01% (ytd), natural gas naik 22,23%, dan brent oil naik 5,76% sepanjang 2022.

Hal ini tentu menguntungkan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil bahan tambang terbesar di dunia, yang berimbas pula ke bursa saham Indonesia terutama emiten energi yang tercatat di BEI.

Baca Juga  Investasi Jabar 2025 Tembus Rp296,8 Triliun, Tertinggi di Indonesia

Dibandingkan dengan bursa dinegara Asean lainnya, kata Thasrif
bursa Indonesia masih sangat menarik.

Hal ini dikarenakan bursa Indonesia masih dalam tahapan yang terus bertumbuh. Potretnya dapat terlihat dari data Price earning (PE) ratio masih tergolong rendah dibanding bursa negara asean lainnya yaitu dilevel 12,49.

“Rata-rata transaksi harian di bursa Indonesia pun terus naik. Saat ini berada diurutan kedua diantara negara ASEAN, yaitu sebesar USD 993,66 million dengan market kapitalisasi terbesar di ASEAN, sebesar USD 598,69 million. Jumlah perusahaan tercatat yang juga terus bertumbuh dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Thasrif mengatakan, dengan catatan kineja yang positif di 2022, dari sisi investasi bukan menjadi alasan bagi kita untuk pesimis menyambut 2023. Walau begitu, ia menghimbau para investor untuk tetap melakukan perhitungan yang matang dalam berinvestasi di tahun 2023.

“Kita sambut 2023 dengan penuh optimis, selalu lakukan investasi dengan perhitungan matang untuk hasil yang cemerlang. Pasar modal selalu memberikan opportunity pada kondisi apa pun bagi kita yang cermat dalam melihat peluang yang ada,” tutupnya. (Adi)