Pentingnya Sinergi Antar Pelaku Pasar Modal untuk Ciptakan Pasar Modal yang Berdaya Saing

Jakarta, BriliaNews.com – Pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

Dengan jumlah investor yang terus meningkat, perusahaan tercatat yang terus bertambah, serta nilai transaksi harian yang kian solid, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di jalur yang tepat menuju pasar modal yang berdaya saing.

Untuk menghadapi tantangan ke depan, belum lama ini BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal sebagai wadah bagi regulator, investor, dan profesional industri, untuk berbagi wawasan serta merancang strategi menghadapi tantangan dan peluang ke depan.

Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi, membangun optimisme, dan memastikan pasar modal tetap menjadi pilihan utama bagi investor domestik maupun global.

Dialog ini juga diselenggarakan untuk mendiskusikan inisiatif yang akan diambil oleh BEI dan OJK bersama regulator, investor, dan profesional industri.

Dialog yang mengusung tema “Soliditas dan Sinergi Pemangku Kepentingan Pasar Modal” ini, memberikan kesempatan bagi perwakilan stakeholders, untuk menyampaikan masukan guna menghadapi kondisi pasar saat ini dan mendukung pengembangan pasar modal Indonesia ke depan.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan, Inarno Djajadi, menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara regulator, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan lainnya.

Baca Juga  Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Cukup Tinggi Namun Ketimpangan Sosial Masih Lebar, Farhan : Baznas Solusinya

Hal ini demi menciptakan pasar modal Indonesia yang berdaya saing dan menjadi tujuan investasi bagi investor domestik maupun internasional.

Sementara itu Direktur Utama BEI Iman Rachman, menyoroti dampak ketidakpastian pasar global terhadap pasar domestik, terutama akibat penyesuaian tarif antara AS dan mitra dagangnya, serta pengaruh kebijakan The Fed dan suku bunga global.

Di lain pihak, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, I.B. Aditya Jayaantara, mengusulkan beberapa inisiatif kebijakan OJK untuk menjaga stabilitas harga. Seperti penundaan implementasi short selling dan pengkajian ulang kebijakan buyback saham, tanpa perlu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Melalui diskusi yang diselenggarakan bersama para pemangku kepentingan pasar modal ini, inisiatif yang diusung oleh OJK telah disambut baik dan didukung implementasinya.

Terlebih, masukan yang diberikan diharapkan dapat dilakukan segera, untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.

Selain itu, ada masukan lain yang diberikan pelaku yaitu agar dilakukan pengkajian mekanisme pengawasan dan perdagangan di BEI.

Dialog tersebut merupakan salah satu bukti bahwa soliditas dan sinergi pelaku pasar, merupakan hal penting untuk menciptakan pasar modal Indonesia yang berdaya saing dan menjadi tujuan investasi bagi investor domestik maupun internasional.

Baca Juga  Dishub dan Polrestabes Bandung Tangkap Tiga "Pak Ogah" yang Pura-pura Terlindas

Dengan demikian diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan ke depannya bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Adapun perkembangan pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif yang signifikan. Dari sisi perusahaan tercatat, terdapat penambahan delapan perusahaan baru yang melaksanakan IPO dan akhirnya tercatat di Bursa dengan total dana dihimpun sebesar Rp3,70 triliun.

BEI menargetkan total 407 efek baru dengan 66 pencatatan saham pada tahun 2025.

Sebagi informasi, jumlah investor berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per 31 Januari 2025, telah mencapai 15.161.166 Single Investor Identification (SID).

Tercatat kenaikan jumlah investor menjadi 15,4 juta SID pada Februari 2025.

BEI menargetkan pertumbuhan 2 juta investor baru pada tahun 2025. Upaya ini akan didukung melalui 29 kantor perwakilan, lebih dari 927 Galeri Investasi (GI), dan lebih dari 240 ribu pengguna aplikasi IDX Mobile.

Sementara Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) sepanjang tahun 2024 mencapai Rp12,85 triliun per 27 Desember 2024. Pada 2025, BEI menargetkan RNTH mencapai Rp13,5 triliun.

(Adi)