Kota Bandung, BriliaNews.com – Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia (FPEB UPI) kembali mengadakan The 6th FPEB International Days, dia Area lobby Gedung FPEB Kampus UPI, jalan Dr. Setiabudhi no 229 Bandung, Selasa (9/12/2025).
Kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) dan Edu Heritage Center ini, diisi dengan workshop batik Megamendung dari Cirebon dan pertandingan interculture antar negara.
Dekan FPEB UPI Prof. Ratih Hurriyati, M.P., CSBA mengatakan, kegiatan ini merupakan yang keenam kali bersamaan dengan tahun ke 6 penerimaan mahasiswa internasional UPI
“International Day kali ini lebih bermakna karena diikuti 144 mahasiswa internasional dari 6 negara yaitu dari Uzbekistan, Tajikistan, China, Togo, Tanzania, dan Nigeria, dengan peserta paling banyak berasal dari Uzbekistan sebanyak 136 mahasiswa,” ungkap Prof. Ratih kepada wartawan.
Pada kegiatan kali ini, semua mahasiswa internasional mengikuti workshop batik Megamendung dan pertandingan interculture antar negara.
“Mereka memasak masakan masing-masing negara yang kemudian dikompetisikan,” ujarnya.
Prof. Ratih berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa Internasional UPI dapat berkontribusi terhadap Indonesia dan mengerti kultur yang ada di Indonesia khususnya Jawa Barat. “Makanya
pattern batiknya pada workshop adalah Mega Mendung dari Cirebon,” tutur Prof. Ratih.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Direktorat Kemitraan dan Urusan Internasional (DKUI) Prof. Pupung Purnawarman, M.Sc.Ed., Ph.D. menjelaskan, kegiatan The 6th International Days sejalan dengan misi DKUI.
DKUI mengelola kegiatan yang berkaitan dengan internasional, termasuk
diantaranya rekrutmen mahasiswa baru dan pelayanan terhadap mahasiswa internasional.
DKUI juga selama ini selalu menyelenggarakan kegiatan internasional days, namun tahun ini belum dilaksanakan karena transisi dari dibentuknya DKUI sebagai direktorat baru.
“Sebelumnya telah ada DIA (Dinas Informasi dan Arsip) dan BPPU (Biro Perlengkapan dan Pelayanan Umum), namun dengan adanya DKUI urusan internasional dari DIA dan BPPU pada bagian kerjasamanya masuk kedalam cakupan DKUI,” jelas Prof. Pupung.
Ia menambahkan rencananya tahun depan akan kembali digelar International Days yang lebih besar lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Mulai tahun depan, akan diselenggarakan international days yang lebih besar lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya, yang mencakup semua fakultas dan kampus daerah UPI,” tutur Prof. Pupung.
Sementara itu Founder Edu Heritage Center yang juga peneliti batik, Prof. Dr. Isma Widiaty, S.Pd., M.Pd., menjelaskan Edu Heritage Center merupakan wadah dari hasil riset yang telah dilakukan selama 10 tahun.
Batik-batik hasil riset tersebut kemudian dijadikan souvenir khas UPI.
“Showroomnya ada di Museum Pendidikan Indonesia, dengan saya sebagai Founder, dan Dr. Suciati, S.Pd., M.Ds. sebagai Co-Founder yang keahliannya lebih ke kebaya. Jadi kami menggabungkan batik dan kebaya di Edu Heritage Center ini,” ungkap Prof. Isma.
Edu Heritage Center memiliki beberapa produk selain batik, antara lain ikat kepala khas Sunda, obi belt dan berbagai merchandise seperti tumbler, kaos, dll.
Tujuan utama Edu Heritage Center ialah mengumpulkan produk-produk hasil kreativitas dosen dan mahasiswa, yang kemudian dijadikan souvenir.
“Tamu-tamu asing yang datang ke UPI diberikan souvenir yang berasal dari Edu Heritage Center. Jadi ini merupakan inkubator bisnis yang dibentuk oleh dosen dan mahasiswa, termasuk alumni,” ungkap Prof. Isma.
Edu Heritage Center ini juga telah menyelenggarakan workshop membatik bagi mahasiswa asing untuk yang ke 4 kalinya.
“Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi suatu kebanggaan, mengingat batik memang menjadi daya tarik sendiri bagi mahasiswa asing,” tutup Prof. Isma.
Pewarta : Adi
Editor. : Afrida






