Kota Bandung, BriliaNews.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat 330.186 pelanggan menggunakan KA Sangkuriang sepanjang Mei–September 2026. Layanan relasi Bandung – Ketapang (PP) tersebut, menjadi salah satu pilihan perjalanan lintas Jawa yang mendapat respons tinggi sejak mulai beroperasi pada 1 Mei 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, tingginya penggunaan KA Sangkuriang menunjukkan terbentuknya pasar perjalanan di sepanjang koridor yang dilalui kereta tersebut.
“KA Sangkuriang melayani perjalanan sepanjang 1.002 kilometer dengan karakter pelanggan yang beragam. Ada perjalanan dari Bandung menuju Yogyakarta atau Solo, perjalanan menuju Surabaya dan Jember, hingga pelanggan yang melanjutkan perjalanan sampai Banyuwangi. Pola ini menunjukkan perjalanan kereta tumbuh di banyak segmen kota yang dilalui,” ujar Anne di Bandung, Kamis (15/10/2026).
KA Sangkuriang melayani relasi Bandung – Ketapang (PP) dan mulai beroperasi dari Bandung pada 1 Mei 2026, sedangkan perjalanan dari Ketapang menuju Bandung dimulai sehari kemudian. Koridor ini membuka perjalanan langsung dari Jawa Barat menuju ujung timur Jawa melalui lintas selatan dan timur Pulau Jawa.
Lintas Sangkuriang melewati berbagai pusat kegiatan masyarakat dan kawasan wisata, antara lain Tasikmalaya, Ciamis, Yogyakarta, Solo, Madiun, Surabaya, Jember, Banyuwangi, hingga Ketapang. Kehadiran satu perjalanan langsung membuat mobilitas antarkawasan tersebut dapat berlangsung tanpa pelanggan harus berganti kereta pada perjalanan Bandung – Banyuwangi.
Menurut Anne, karakter tersebut membuat KA Sangkuriang menarik dilihat dari pola mobilitas antarkawasan perkotaan dan perjalanan wisata. Dari Bandung Raya dan Priangan, jalurnya bertemu dengan kawasan Yogyakarta–Solo, Madiun, Surabaya Raya, kawasan Tapal Kuda, hingga Banyuwangi yang memiliki pasar perjalanan dengan karakter berbeda.
“Satu rangkaian Sangkuriang dapat melayani banyak pola perjalanan sekaligus. Pelanggan dapat naik dan turun di berbagai segmen sepanjang rute. Karena itu, manfaat layanan ini terasa pada hubungan antarkota di sepanjang lintas, termasuk untuk perjalanan keluarga, kegiatan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan wisata,” kata Anne.
Respons pelanggan juga terlihat dari tingkat okupansi KA Sangkuriang. Berdasarkan kinerja Juli–September 2026, KA Sangkuriang nomor 7044A mencatat rata-rata okupansi 240,53 persen, tertinggi di antara KA unggulan dari dan menuju ke Bandung pada periode tersebut. Okupansinya mencapai sekitar 251 persen pada Juli, 244 persen pada Agustus, dan 227 persen pada September 2026.
Pada periode libur sekolah 2026, tingkat okupansi layanan ini bahkan sempat mencapai 284 persen. Angka okupansi di atas 100 persen tersebut merupakan dampak dari pergantian pelanggan pada berbagai segmen perjalanan. Satu tempat duduk dapat digunakan pelanggan berbeda setelah pelanggan sebelumnya turun di stasiun tujuan, sehingga angka tersebut tidak berarti jumlah pelanggan di dalam kereta melebihi kapasitas tempat duduk pada saat bersamaan.
“Angka okupansi tersebut memperlihatkan kuatnya perjalanan parsial. Artinya, Sangkuriang hidup sepanjang lintasnya. Pergerakan tidak terkonsentrasi pada Bandung dan Ketapang saja karena terdapat pelanggan yang memanfaatkan perjalanan antarkota pada berbagai segmen di tengah rute,” ujar Anne.
(Adi)
W






