Jakarta, BriliaNews.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menegaskan, berdasarkan Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 Oktober 2026, OJK menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) masih stabil di tengah berlanjutnya konflik geopolitik, tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Namun demikian, OJK juga masih terus memantau kondisi dinamika inflasi global yang masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi seiring eskalasi konflik geopolitik.
Tidak hanya itu, lonjakan tingkat inflasi di sejumlah negara seperti Jepang dan Inggris bahkan melampaui rentang target yang ditetapkan.
Kenaikan inflasi telah mendorong bank sentral global melanjutkan pengetatan kebijakan moneter, dengan kecenderungan suku bunga kebijakan berlanjut di level yang tinggi hingga 2027.
Di sisi lain, keterbatasan ruang fiskal semakin mempersempit kapasitas pemerintah di berbagai negara, khususnya di kawasan Eropa dalam memberikan subsidi di tengah tekanan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga.
“Sejumlah negara bahkan menghadapi kebutuhan konsolidasi fiskal, melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah. Perkembangan tersebut turut meningkatkan ketegangan sosial dan memicu gejolak secara luas di berbagai negara,” ujar Friderica pada Asesment SJK dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Oktober 2026, Kamis (5/11/2026).
Ia menambahkan, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi serta gelombang instabilitas politik global, juga turut meningkatkan ketidakpastian sehingga mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global.
Selain itu, kinerja bursa saham global juga dipengaruhi oleh koreksi saham teknologi. Sementara, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara, terus meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Sementara di sisi domestik, permintaan menunjukkan pergeseran pola konsumsi yang semakin konservatif, dengan rumah tangga memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok.
Inflasi mengalami peningkatan terutama didorong oleh kenaikan harga pangan, sedangkan pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif stabil.
Penjualan kendaraan bermotor tumbuh cukup solid, terutama didorong oleh penjualan mobil listrik.
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan dengan PMI Manufaktur Oktober 2026 meningkat ke level 54, tertinggi sejak Maret 2024, serta neraca perdagangan yang tetap mencatatkan surplus.
“Lebih lanjut, laju pertumbuhan ekonomi nasional triwulan III 2026 masih terjaga positif di level 5,47 persen yoy, dengan seluruh lapangan usaha tumbuh positif,” pungkas Friderica.
(Adi/rel)






