Kenali Berbagai Resiko dan Instrumen Investasi di Pasar Modal Indonesia

Jakarta, BriliaNews.com – Pasar modal adalah tempat bagi investor untuk mengembangkan kekayaan mereka, melalui berbagai instrumen investasi. Bagi pemula, memahami instrumen-instrumen utama seperti saham, obligasi, reksa dana, dan derivatif, sangat penting sebelum mulai berinvestasi.

Hal yang paling utama ialah memahami potensi keuntungan serta risiko masing-masing produk investasi tersebut.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Achmad Dirgantara mengungkapkan, instrumen atau produk investasi yang paling populer di pasar modal dan diperdagangkan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah saham.

“Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Dengan membeli saham, investor menjadi pemilik sebagian dari perusahaan tersebut dan berhak atas keuntungan yang dihasilkan,” jelas Achmad Dirgantara,
Jumat (7/2/2025).

Ia memaparkan ada tiga potensi keuntungan menjadi pemegang saham, yakni capital gain, dividen, dan memiliki hak suara di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Capital gain, merupakan keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual saham. Dividen yaitu pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham.

Potensi keuntungan ketiga menjadi pemegang saham, yaitu memiliki hak suara untuk berpartisipasi dalam keputusan perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Namun demikian, perlu diingat bahwa investasi saham juga memiliki resiko yang perlu dipahami.

Yang pertama adalah fluktuasi harga. Harga saham bisa naik dan turun dengan cepat karena berbagai faktor, baik kondisi ekonomi domestik maupun global dan kinerja keuangan perusahaan.

Kedua, risiko likuiditas. Tidak semua saham mudah dijual kembali dengan harga yang diinginkan.

“Dan ketiga, risiko perusahaan, jika perusahaan mengalami kerugian atau bangkrut, investor bisa kehilangan modalnya,” ujarnya.

Produk lain yang diperjualbelikan di BEI, yakni
obligasi atau surat utang, baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan untuk mengumpulkan dana dari investor.

“Investor yang membeli obligasi akan menerima pembayaran bunga (kupon) secara berkala serta pengembalian pokok investasi pada saat jatuh tempo,” jelas Achmad.

Baca Juga  Longsor di Kaki Gunung Burangrang Kab. Bandung Barat Timbun 30 Unit Rumah 7 Orang Meninggal

Keuntungan obligasi adalah memberikan pendapatan tetap berupa kupon obligasi yang dibayarkan secara berkala, sehingga memberikan penghasilan yang stabil.

Obligasi termasuk instrumen yang memiliki keamanan lebih tinggi, terutama pada obligasi pemerintah karena dijamin oleh negara.

Dengan demikian intrumen ini memiliki risiko lebih rendah dibanding saham.

“Memiliki obligasi atau surat utang negara bisa dijadikan sarana diversifikasi portofolio, untuk mengurangi risiko dalam investasi,” ucapnya.

Meski demikian kata
Achmad Dirgantara,
berinvestasi pada instrumen obligasi tetap memiliki risiko.

Pertama, risiko suku bunga, jika suku bunga naik, harga obligasi cenderung turun.

Kedua, risiko gagal bayar, jika penerbit obligasi mengalami kesulitan keuangan, pembayaran kupon dan pokok bisa terhambat.

Ketiga, risiko likuiditas, karena tidak semua obligasi mudah diperjualbelikan di pasar sekunder.

Instrumen lainnya yang lebih mudah untuk investor pemula, adalah reksa dana.

“Reksa dana adalah produk investasi yang dikelola oleh manajer investasi. Dana pembelian unit dari berbagai investor dikumpulkan dan diinvestasikan ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau pasar uang oleh manajer investasi yang menjadi pengelola reksa dana,” jelas Achmad.

Keuntungan reksa dana dikelola profesional yaitu manajer investasi yang berpengalaman mengelola dana, sehingga cocok bagi pemula.

Secara otomatis dana investasi yang dikelola manajer investasi sudah terdiversifikasi, sehingga mengurangi risiko karena dana tersebar di berbagai instrumen.

Dan yang terpenting adalah aksesibilitas bagi masyarakat umum, karena bisa mulai berinvestasi di pasar modal dengan modal kecil.

Adapun risiko reksa dana yang pertama memiliki risiko pasar. Nilai investasi dalam bentuk harga unit bisa naik atau turun tergantung kondisi pasar.

Kedua, ada biaya pengelolaan berupa biaya administrasi dan pengelolaan yang dapat mengurangi keuntungan.

“Resiko lainnya adalah ketergantungan pada manajer investasi, karena kinerja investasi bergantung pada keahlian manajer investasi yang dipilih oleh investor,” tuturnya.

Baca Juga  Akun IG RSHS Diretas, Masyarakat Dihimbau Waspada

Selanjutnya, yang juga ada di pasar modal dan diperdagangkan di BEI adalah produk derivatif.

Derivatif adalah instrumen keuangan yang nilainya bergantung pada aset dasar seperti saham, obligasi, atau komoditas. Di BEI, beberapa produk derivatif yang diperdagangkan meliputi kontrak berjangka (futures) dan opsi saham.

Keuntungan produk derivatif adalah pada leverage. Investor bisa mendapatkan eksposur yang lebih besar dengan modal yang lebih kecil.

Lalu bagi investor yang sudah sophisticated atau memahami investasi, dapat menjadikan instrument derivatif sebagai fasilitas hedging, yaitu untuk melindungi portofolio dari risiko fluktuasi harga.

Produk ini juga memiliki potensi keuntungan tinggi, jika berinvestasi dengan strategi yang tepat.

Namun, investor tetap harus mewaspadai risiko produk derivatif, yaitu risiko leverage,
kompleksitas dan resiko likuiditas.

Risiko leverage, potensi kerugian bisa lebih besar dari investasi awal, karena menggunakan margin.

Kompleksitas karena membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam, dibandingkan saham atau obligasi. Dan risiko likuiditas, akibat tidak semua kontrak derivatif, memiliki likuiditas tinggi di pasar.

Ia mengingatkan
dengan memahami produk-produk atau berbagai instrumen investasi yang ada di pasar modal, maka para investor bisa memilih instrumen investasi sesuai dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu investasi masing-masing.

Saham menawarkan potensi keuntungan tinggi tetapi juga memiliki risiko tinggi, dan obligasi memberikan pendapatan tetap tetapi memiliki risiko suku bunga dan gagal bayar.

Sementara reksa dana adalah pilihan yang lebih mudah bagi pemula karena dikelola secara profesional, sedangkan produk derivatif hanya untuk investor yang betul-betul sudah mengerti mengenai strategi berinvestasi.

“Sebelum berinvestasi, pastikan untuk memahami risiko yang ada dan melakukan analisis mendalam agar keputusan investasi lebih bijak,” tutup Achmad Dirgantara.

Pewarta : Adi
Editor     : Afrida