Kota Bandung, BriliaNews.com – Bio Farma bersama Serum Institue of India (SII), perusahaan farmasi terkemuka yang bergerak dalam bisnis produksi dan distribusi produk biologi dan vaksin di India, secara resmi menandatangani Perjanjian Kerjasama di India, Sabtu (25/1/2025).
Perjanjian kerjasama ini terkait rencana kerjasama produk diagnostik TB (Cy-Tb) sebagai salah satu komitmen Bio Farma, untuk mendukung program pemerintah dalam memenuhi target eliminasi TB nasional pada tahun 2030 yang ditergetkan oleh Kementerian Kesehatan RI.
Perjanjian Kerjasama tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya dan Deputy Director SII, Prasen Adya serta disaksikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, Komisaris Utama Bio Farma Tugas Ratmono, dan Executive Director SII, Member Board of Directors, Parag Deshmukh.
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama ini dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden RI ke India, untuk menghadiri Upacara Perayaan Hari Republik India Tahun 2025 yang turut dihadiri Menteri Kesehatan RI.
Bio Farma dan Menteri Kesehatan RI, kemudian mengadakan pertemuan dengan SII.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya menyampaikan, kolaborasi Bio Farma dan SII telah terjalin cukup lama.
Kolaborasi dengan SII dimulai pada tahun 2011 melalui ekspor bulk polio ke SII, yang kemudian oleh SII diproduksi menjadi finished product untuk memenuhi kebutuhan vaksin polio secara global.
“Hingga saat ini hubungan kerjasama masih berlanjut dengan memperkuat portofolio mencakup vaksin BCG, vaksin MR, Bulk Hepatitis B, vaksin pentavalen, vaksin heksavalen dan vaksin malaria yang saat ini dalam tahap regisrasi. SII merupakan strategic partner Bio Farma,” ujar Shadiq.
Agreement CyTb di tahun 2025 kemudian dilanjutkan dengan proses registrasi skintest untuk pemeriksaan tuberkulosis latent, dengan profil yang lebih baik dibandingkan dengan PPD RT23 yang saat ini digunakan di Indonesia.
Dengan adanya Kerjasama antara Bio Farma dan SII diharapkan dapat memperkuat kolaborasi, sehingga mempercepat eliminasi TB di Indonesia dan juga India.
Shadiq mengungkapkan Indonesia telah membuat kemajuan yang siginifikan dalam program imunisasi, dengan memperkenalkan 14 antigen vaksin ke dalam Progam Imunisasi Nasional (PIN).
“Kami bangga bahwa Bio Farma saat ini memasok 13 antigen vaksin tersebut, dengan 9 diproduksi di dalam negeri dan 4 antigen vaksin lainnya diimpor, yang beberapa diantaranya berasal dari SII,” tuturnya.
Ia menambahkan, melihat ke masa depan, Bio Farma sangat antusias dengan akan segera dimasukannya vaksin heksavalen ke dalam program Imunisasi Nasional, yang akan melanjutkan komitmen Indonesia untuk cakupan imunisasi yang komprehensif.
“Bio Farma berkomitmen untuk memperkuat kemitraan dengan SII. Di luar ekspor produk jadi dan bulk (barang setengah jadi), kami juga ingin mengeksplorasi peluang dalam penelitian dan pengembangan serta transfer teknologi untuk produksi,” tutur Shadiq.
Selain itu telah dilakukan penjajakan produk jadi vaksin rBCG, yaitu vaksin newTB yang diharapkan dapat digunakan di usia dewasa untuk dapat menambah imunitas terhadap tuberculosis.
“Kami berharap vaksin ini dapat digunakan di Indonesia utuk mendukung program manajemen TB di Indonesia,” pungkas Shadiq.
Sebagai informasi berdasarkan data yang dilansir dari website Perkumpulan Pemberantas Tuberkolosis Indonesia disebutkan bahwa laporan WHO terbaru menunjukkan Indonesia adalah penyumbang terbesar kedua kasus TB dunia, dengan India di posisi pertama, dan mengalami peningkatan kasus antara 2020-2023.
Berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Global TB Report 2024, Indonesia masih menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia.
(Adi)






