Antisipasi Semakin Menjamurnya Pengemis Selama Ramadhan, Dinsos Jabar Minta Masyarakat Tidak Memberi Uang

Kota Bandung, BriliaNews.com –
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat melakukan koordinasi dengan stakeholders terkait di seluruh kabupaten/kota di Jabar, dalam mengantisipasi semakin banyaknya pengemis dadakan yang datang dari berbagai daerah.

Kepala Dinas Sosial Jabar Dodo Suhendar juga mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak merespons pengemis dadakan yang selama Ramadan ini sudah mulai terlihat di sejumlah pusat keramaian.

“Mereka kerap memanfaatkan momen Ramadan untuk mengemis. Kita terus berkoordinasi dengan dinas sosial kabupaten/kota yang punya wilayah dalam penanganannya,” kata Dodo di Kota Bandung, Kamis (13/4/2023).

Dodo berharap dengan adanya penanganan gelandangan dan pengemis (gepeng) dapat menekan jumlah pengemis khususnya saat bulan Ramadan seperti sekarang ini.

Baca Juga  DPRD Jabar Terima Kunjungan Delegasi Victoria Australia

“Saya juga mengingatkan masyarakat yang sering terkecoh dan merasa iba, sehingga memberi uang kepada pengemis yang justru menjadi ketagihan dan semakin menjamur,” ujarnya.

Dodo menambahkan, bersama instansi terkait pihaknya juga kontinyu melakukan operasi terhadap gepeng untuk dibina atau dipulangkan ke daerah asalnya.

“Kebanyakan para gelandangan atau pengemis dadakan berasal dari luar Jawa Barat, sehingga perlu kita pulangkan,” imbuhnya.

Sementara itu pemerhati sosial Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Siti Komariah menuturkan, fenomena pengemis di perkotaan menarik perhatian karena pola pragmatisme masyarakat saat ini dalam mendapatkan sesuatu secara instan dan kaum pengemis memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

“Masyarakat miskin di perkotaan sangat terbudayakan oleh nilai-nilai pragmatisme dalam mendapatkan materi. Realitas pengemis di perkotaan bukan lagi fenomena sosial dari orang-orang yang kekurangan, akan tetapi sudah menjadi mata pencaharian,” tuturnya.

Baca Juga  Srikandi BUMN Ajak Perempuan Indonesia Lakukan Deteksi Dini Kanker Serviks

Menurut Siti, perilaku pengemis sebagai tindakan rasional dalam upayanya untuk tetap eksis dalam kehidupan. Mengemis bukan lagi pekerjaan tabu ataupun memalukan.

Perilaku pengemis yang mereka lakonkan dengan beragam tipologi, kata Siti merupakan bentuk refleksi aktivitas diri yang sama dengan aktivitas lainnya, namun dengan wujud perilaku yang berbeda.

“Hanya saja konstruksi sosial memvonis mereka sebagai orang pinggiran, yang akan mewariskan cultural of poverty kepada anak-anaknya,” jelas Siti.

Editor : Ida